Indonesia Sehat 2010


Pencanangan program Indonesia Sehat 2010 dinilai tidak akan sukses sesuai harapan. Pasalnya, perubahan iklim global telah memengaruhi munculnya mikrobiologi baru yang dapat membawa penyakit degeneratif.

Hal tersebut dikatakan Ahli Biologi Molekul Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof M Nurhalim Shahib seusai mendampingi Deputi Bidang Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Negara Lingkungan Hidup Hendri Bastaman pada seminar nasional Perubahan Iklim: Tantangan dalam Pengembangan dan Penerapan IPTEKS untuk Pembangunan Nasional, di Bandung, Jawa Barat (Jabar), Rabu (22/10).

Nurhalim mengatakan sebelum tahun 2000, pemerintah telah mencanangkan strategi kesehatan nasional melalui pencegahan penyakit tuberkolosis, polio dan lepra. “Melihat kondisi masyarakat di sebagian daerah di Jabar, Jatim dan NTT, yang masih mengalami tuberkolosis, lepra, dan gizi buruk, diperlukan suatu evaluasi kembali,” katanya.

Ia menjelaskan ketidakseriusan dalam menanggulangi berbagai penyakit akan berimbas terhadap penyakit degeratif. “Pascatahun 2000-an, terdapat beberapa kasus penyakit, di antaranya AIDS/HIV, flu burung, busung lapar serta penyakit infeksi lainnya. Melihat kondisi tersebut, belum tentu program Indonesia Sehat 2010 akan terealisasi,” paparnya.

Menurutnya, penyelesaian masalah sebelum tahun 2000 pun masih terlihat tidak tuntas sehingga terakumulasi dan tercuat beberapa tahun kemudian. “Bila berbagai strategi 2010 telah berhasil, tidak menutup kemungkinan program selanjutnya akan berjalan. Meski demikian, belumlah menjamin untuk masyarakat menjadi sehat pada 2020,” jelasnya.

Selain itu, ia mengatakan eksploitasi sumber daya alam telah memengaruhi rehabilitasi lingkungan sehingga mengakibatkan daya dukung lingkungan menurun. “Bila daya dukung itu menurun, akan berakibat fatal bagi berbagai penyakit defisiensi untuk terus berkembang (infeksi dan degeneratif),” gumamnya.

Untuk itu, tuturnya, sistem kesehatan nasional (SKN) harus memberikan perspektif secara luas untuk meningkatkan sumber daya kesehatan, pembangunan kesehatan, upaya kesehatan, manejemen kesehatan serta pemberdayaan masyarakat. “Hal-hal ini harus diterapkan karena SKN sangat berkaitan dengan pembangunan SDM,” pungkasnya.

Nurhalim juga memaparkan untuk menyukseskan program pemerintah itu, perlu dikembangkan ilmu pengetahuan berbasis bioteknologi. “Kasus flu burung di China yang terimbas hingga ke Indonesia, misalnya, diakibatkan karena iptek kita masih kurang,” cetusnya.

Bila bioteknologi sudah tercukupi, katanya, sekaligus bisa mendapatkan vaksin untuk mencegah mikroorganisme, virus yang masuk dapat ditanggulangi. “Sebetulnya, yang dibutuhkan di negara kita yaitu pengembangan vaksin untuk mencegah virus yang masuk,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nurhalim menuturkan diperlukan strategi secara komprehensif agar bisa menyukseskan program Indonesia Sehat 2010 ataupun 2020. “Strategi harus dirubah secara komprehensif, data statistik harus diselesaikan dengan proses ilmiah yang sistematis. Jadi, tidak bisa data ilmiah itu dijadikan kesimpulan. Haruslah ditunjang dengan riset yang handal,” pungkasnya. (disalin dari situs menko kesra)

Hari Kesehatan Nasional dibutuhkan untuk membentuk penyadaran di tengah masyarakat tentang arti penting kesehatan. Sehubungan dengan itu, rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-36 yang jatuh pada 12 November 2000 ditandai dengan pencanangan Gerakan Menuju Indonesia Sehat Tahun 2010. Pencanangan itu dicetuskan Presiden Abdurrahman Wahid di kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Selasa (7/11/2000).

Sehubungan dengan itu, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang didampingi Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Ahmad Sujudi, serta Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, kemudian menurunkan spanduk raksasa dari tugu Monumen Nasional sebagai simbol resmi pencanangan Gerakan Menuju Indonesia Sehat 2010.

Kegiatan-kegiatan berupa Darma Bakti masyarakat ke desa-desa binaan Departemen Kesehatan juga akan dilakukan dalam rrankaian peringatan serupa. Kegiatan yang akan berlangsung di sejumlah kota di Indonesia itu juga meliputi pengadaan pelayanan kesehatan pada masyarakat terpencil. (sumber : sctv)

Sumber : ictwomen.com

 
Departemen Kesehatan akan memfokuskan belanja anggaran pada dua hal. Salah satunya penurunan angka kematian ibu dan anak.

Seperti diberitakan, Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. Tahun 202 kematian ibu melahirkan mencapai 307 per 100.000 kelahiran. Angka ini 65 kali kematian ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan 2,5 kali lipat dari indeks Filipina. Tingkat kematian ibu merupakan indikator utama yang membedakan suatu negara digolongkan sebagai negara maju atau negara berkembang.

Selain itu, lanjut Siti, Pemerintah juga akan memfokuskan anggaran pada pengobatan rakyat dan penanggulangan bencana.

“Anggaran Depkes tahun ini Rp 20 triliun lebih,” kata Siti dalam pidato pertanggungjawabkan RAPBN  2010. Jumlah anggaran itu, naik Rp 3 triliun dari anggaran Depkes tahun lalu.

Sumber : ictwomen.com

 
Departemen Kesehatan akan memfokuskan belanja anggaran pada dua hal. Salah satunya penurunan angka kematian ibu dan anak.

Seperti diberitakan, Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. Tahun 202 kematian ibu melahirkan mencapai 307 per 100.000 kelahiran. Angka ini 65 kali kematian ibu di Singapura, 9,5 kali dari Malaysia. Bahkan 2,5 kali lipat dari indeks Filipina. Tingkat kematian ibu merupakan indikator utama yang membedakan suatu negara digolongkan sebagai negara maju atau negara berkembang.

Selain itu, lanjut Siti, Pemerintah juga akan memfokuskan anggaran pada pengobatan rakyat dan penanggulangan bencana.

“Anggaran Depkes tahun ini Rp 20 triliun lebih,” kata Siti dalam pidato pertanggungjawabkan RAPBN  2010. Jumlah anggaran itu, naik Rp 3 triliun dari anggaran Depkes tahun lalu.

http://lisasuroso.files.wordpress.com/2008/04/ciliwung.jpg

Pada Tahun 2003, Departemen Kesehatan RI, melalui Kepmenkes No 1202/Menkes/SK/VIII/2003 telah mencanangkan sebuah gerakan yang disebut dengan Indonesia Sehat 2010. Enam tahun sudah gerakan ini dicanangkan. Dan, tinggal empat bulan lagi kita akan melihat realisasi dari pencanangan ini.

Untuk mengukur apakah Indonesia Sehat sudah tercapai di 2010, Depkes sendiri telah menyusun indikator-indikator kinerja yang dapat digunakan oleh semua pihak untuk menilai dan mengevaluasi. Indikator yang disusun itu sangat detail, rigit dan sistematik. Berikut ini adalah beberapa indikator penting yang tertuang dalam lampiran Kepmenkes No 1202/Menkes/SK/VIII/2003.

1. Angka kematian bayi per-1.000 kelahiran hidup
2. Angka kematian balita per-1.000 kelahiran hidup
3. Persentasi Balita Gizi buruk maksimal 15 %
4. Persentase rumah sehat 80 %
5. Persentase Posyandu Purnama minimal 40 %
6. Persentase penduduk yang memanfaatkan Puskesmas minimal 15 %
7. Rasio Dokter 1 : 100.000 penduduk
8. Rasio Dokter spesialis 1 : 100.000 penduduk
9. Rasio Dokter keluarga 1 : 1.000 penduduk
10. Persentase keluarga yang memiliki akses ke air bersih minimal 85 %

(sumber : http://www.koalisi.org)

Dengan indikator-indikator tersebut, tentu jika semua dibebankan kepada Depatermen Kesehatan RI tidak akan bisa tercapai. Diperlukan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai target tersebut. Selain soal struktural, kesehatan juga mencakup problem kultural salah satunya adalah perilaku sehat.

Tugas kita semua untuk menyelesaikannya. Yang memiliki perspektif struktural, silahkan terus mengawasi dan memberikan masukan kepada pemegang kebijakan agar bekerja lebih serius, bagi yang lebih suka dengan pendekatan kultural, silahkan menggalakkan kegiatan-kegiatan keteladanan berperilaku hidup sehat dari lingkungan terkecil kita.

Indonesia Sehat 2010, tinggal menghitung hari. Jika lebay, Indonesia akan semakin susah untuk mengejar target Milineum Development Goals (MDGs) 2015

http://lisasuroso.files.wordpress.com/2008/04/ciliwung.jpg

Pada Tahun 2003, Departemen Kesehatan RI, melalui Kepmenkes No 1202/Menkes/SK/VIII/2003 telah mencanangkan sebuah gerakan yang disebut dengan Indonesia Sehat 2010. Enam tahun sudah gerakan ini dicanangkan. Dan, tinggal empat bulan lagi kita akan melihat realisasi dari pencanangan ini.

Untuk mengukur apakah Indonesia Sehat sudah tercapai di 2010, Depkes sendiri telah menyusun indikator-indikator kinerja yang dapat digunakan oleh semua pihak untuk menilai dan mengevaluasi. Indikator yang disusun itu sangat detail, rigit dan sistematik. Berikut ini adalah beberapa indikator penting yang tertuang dalam lampiran Kepmenkes No 1202/Menkes/SK/VIII/2003.

1. Angka kematian bayi per-1.000 kelahiran hidup
2. Angka kematian balita per-1.000 kelahiran hidup
3. Persentasi Balita Gizi buruk maksimal 15 %
4. Persentase rumah sehat 80 %
5. Persentase Posyandu Purnama minimal 40 %
6. Persentase penduduk yang memanfaatkan Puskesmas minimal 15 %
7. Rasio Dokter 1 : 100.000 penduduk
8. Rasio Dokter spesialis 1 : 100.000 penduduk
9. Rasio Dokter keluarga 1 : 1.000 penduduk
10. Persentase keluarga yang memiliki akses ke air bersih minimal 85 %

(sumber : http://www.koalisi.org)

Dengan indikator-indikator tersebut, tentu jika semua dibebankan kepada Depatermen Kesehatan RI tidak akan bisa tercapai. Diperlukan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai target tersebut. Selain soal struktural, kesehatan juga mencakup problem kultural salah satunya adalah perilaku sehat.

Tugas kita semua untuk menyelesaikannya. Yang memiliki perspektif struktural, silahkan terus mengawasi dan memberikan masukan kepada pemegang kebijakan agar bekerja lebih serius, bagi yang lebih suka dengan pendekatan kultural, silahkan menggalakkan kegiatan-kegiatan keteladanan berperilaku hidup sehat dari lingkungan terkecil kita.

Indonesia Sehat 2010, tinggal menghitung hari. Jika lebay, Indonesia akan semakin susah untuk mengejar target Milineum Development Goals (MDGs) 2015

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.