20 Oktober 2008, saya resmi meletakkan jabatan sebagai wakil sekretaris pelaksana harian di pimpinan koletif nasional partai demokrasi pembaruan.

Genap 2,5 tahun mengabdi pada partai politik yang baru lahir. Ikut membidani kelahiran dan mendapatkan akta kelahiran partai ini di depkumham 2007 yang lalu. Hingga akhirnya PDP diakui sebagai partai politik berbadan hukum, dan kini menjadi peserta pemilu 2009.

Sebagai “pejuang”, saya bangga bisa mengantarkan PDP hingga ke gerbang pemilu. Tapi sebagai “pekerja” saya kecewa. Kekecewaan ini bukan semata karena PDP tidak mampu memberikan reward kepada pejuang-pejuangnya, namun karena ternyata setelah perjuangan baru mencapai 50% saya mulai tidak lagi meyakini apakah yang saya perjuangkan bermanfaat untuk saya dan teman-teman yang sealiran dengan saya.

Kolektifitas yang semu, yang semakin hari tidak jua memperbaiki diri akhirnya berujung petaka. Sejumlah pejuang yang seharusnya mendapatkan bintang jasa … perlahan-lahan mulai menyangsikan perjuangannya. Wajah-wajah baru yang dimunculkan sebagai calon legislatif mulai menuai bencana. Mereka datang dan duduk manis di barisan terdepan.

Sistem yang dulu dipercaya mampu menyatukan perbedaan, kita disangsikan. Sistem kolektifitas menjadi alasan untuk meminggirkan para pejuang ditepian kekecewaan.

bersambung ….