Mei 2009


Permasalahan kesehatan berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sitaro dan PPK Regional Sulawesi Utara, pada tanggal 31 Mei 2009 pukul 23.35 WITA telah terjadi letusan Gunung Karangetang sehingga memuntahkan lahar panas/lava pijar yang mendekati pemukiman warga di Kelurahan Tarorane Tampuna Kecamatan Siau Timur Kabupaten Kepulauan Sitaro.
Berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, sejak tanggal 31 Mei 2009 pukul 13.00 WITA, status kegiatan Gunung Karangetang dinaikkan dari “SIAGA” menjadi “AWAS”.
Tidak ada korban meninggal dunia maupun luka-luka. Terjadi pengungsian sebanyak 89 jiwa (33 KK). Lokasi pengungsian di Desa Bebali Kec. Siau Timur Kab. Sitaro. Saat ini pengungsi telah kembali ke rumahnya masing-masing. Tidak ada sarana kesehatan yang rusak.
 Upaya yang dilakukan antara lain : evakuasi korban, mendirikan Pos Kesehatan di lokasi bencana, mempersiapkan kebutuhan obat-obatan, dan melakukan pemantauan di lokasi bencana.
Saat ini permasalahan kesehatan masih dapat diatasi oleh jajaran kesehatan setempat. Pemantauan tetap dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sitaro PPK Regional Sulawesi Utara dan Pusat Penanggulangan Krisis Depkes.
Posted from : surabaya-ehealth.org
Surabaya, eHealth. Menyambut Hari Bebas Tembakau (HBT) di akhir bulan Mei ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapanza Universitas Airlangga mengadakan Seminar HBT. Seminar yang berlangsung selama dua jam ini mengangkat tema “Apa Sich Enaknya Merokok” dan dihadiri oleh perwakilan dari setiap Fakultas Unair dan perwakilan dari UKM Unair.
Bertempat di lantai tiga ruang Abraham Maslow, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, seminar ini dibawakan oleh dua orang narasumber yang kerap memerangi dan membatasi tersebarnya asap rokok di sembarang tempat, termasuk juga memberikan andil dalam terbentuknya Perda KTM-KTR No.5 tahun 2008 di Kota Surabaya, mereka adalah dr. Santi Martini M.Kes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair dan Priyono Adi Nugroho dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA).
“Satu batang rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, 40 diantaranya bersifat karsinogen yang menyebabkan Kanker,” tutur dr. Santi kepada para mahasiswa dan mahasiswi Unair yang datang sebagai undangan. 
Salah satu zat yang begitu dikenal oleh orang-orang yang terkandung dalam rokok adalah nikotin. Bukan rahasia lagi bahwa nikotin menyebabkan kecanduan bagi siapa saja yang menghirupnya atau mengkonsumsinya. “Nikotin sifatnya sangat adiktif, lebih daripada heroin, kokain, ataupun alkohol,” tutur dokter yang mengenakan kacamata itu. Hal itu karena nikotin menyebabkan efek langsung ke otak selama kurang dari 10 detik. 
Ia juga menekankan bahwa nikotin dapat dengan sangat mudah meresap ke tubuh melalui mulut, hidung, dan kulit tanpa harus dibakar. ”Jadi kalau kalian tempel-tempelkan rokok ke mulut saja tanpa dibakar, itu (nikotin, Red) sudah dapat meresap ke tubuh,” lanjutnya.
Sehingga hal tersebut dapat juga membahayakan petani tembakau dimana dalam kesehariannya mereka harus bersentuhan langsung dengan tanaman tembakau yang sarat akan kandungan nikotin.
Selain itu tidak ada kadar yang aman dalam penggunaan nikotin, sehingga serendah apapun kadar nikotin yang terkandung dalam suatu rokok dapat menyebabkan ketagihan. Hal tersebut dipertegas pula oleh Priyono Adi Nugroho bahwa serendah apa pun kadarnya tetap berdampak. ”Seperti contohnya yang baru-baru ini sisha, walau kadar nikotinnya hanya 0,05% saja, nikotin tetap berbahaya,” tutur Pri, panggilan akrabnya, yang juga pernah bergelut dengan kebiasaan merokok dan akhirnya berhenti.
Nikotin menyebabkan produksi adrenalin meningkat, darah lebih cepat membeku sehingga berisiko tinggi terhadap serangan jantung. Sudah begitu jelas kerugian dari merokok terutama dari segi kesehatan. Dari segi ekonomi dr. Santi mengakui bahwa sebenarnya biaya untuk membelanjakan rokok jika dikalukulasikan dapat lebih tinggi dibanding keperluan sehari-hari termasuk juga keperluan pendidikan. 
Selain itu kerugian merokok dirasakan juga dari segi lingkungan, terutama menyangkut asap yang disebabkan oleh rokok. Pada sebatang rokok yang dibakar, 25% asap dihirup oleh pengguna, 75%nya terdapat di udara bebas, lalu ketika pengguna menghembuskan asap rokok maka sebanyak 12,5% asap berada di udara bebas. Ini berarti kurang lebih 90% asap rokok memenuhi udara bebas, sehingga dalam hal ini yang paling terancam tentu saja orang-orang yang berada di sekitar pengguna rokok, atau biasa disebut dengan perokok pasif.
Seperti yang dituturkan oleh dr. Santi, maka dari itu dikeluarkan lah peraturan yang mentertibkan perokok pasif, salah satunya untuk melindungi perokok pasif karena memiliki udara bersih adalah hak setiap orang. Ia juga mensosialisasikan Perda KTR-KTM yang telah dimiliki oleh Kota Surabaya kepada para peserta.
Salah satu peserta seminar, Lukman Hakim (20) menyetujui dengan adanya peraturan untuk mendisiplinkan asap rokok. ”Zat-zatnya banyak sekali yang beracun,” tukasnya. Ia mengaku pernah sekali mencoba merokok ketika lulus SMU. Karena begitu senangnya lulus SMU itu Ia mencoba untuk merokok, alhasil tubuhnya biru semua. ”Sejak saat itu saya kapok merokok, ditawarin sampai mati pun saya tidak mau merokok,” tegas mahasiswa Fakultas Psikologi Unair ini.
Ia juga kerap mengingatkan teman-teman atau orang yang ada di sekitarnya mengenai bahaya rokok, namun ia mengungkapkan hal itu tidak begitu mudah dilakukan.
Terlalu banyak efek negatif yang disebabkan oleh rokok atau tembakau, lalu mengapa dari sekian banyak alasan orang-orang tetap saja mengisi luang waktunya dengan meokok? Seperti yang dikatakan oleh Pri mengutip perkataan Phillip Morris bahwa alasan orang merokok adalah to relax, for the taste, something to do with hands, but for the most part, people continue to smoke because they find it too difficult to quit. Rokok sebabkan candu sehingga lebih baik tidak sama sekali atau rokok yang memilih untuk merusak tubuh Anda.(fie)
Posted from : surabaya-ehealth.org
Surabaya, eHealth. Menyambut Hari Bebas Tembakau (HBT) di akhir bulan Mei ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mapanza Universitas Airlangga mengadakan Seminar HBT. Seminar yang berlangsung selama dua jam ini mengangkat tema “Apa Sich Enaknya Merokok” dan dihadiri oleh perwakilan dari setiap Fakultas Unair dan perwakilan dari UKM Unair.
Bertempat di lantai tiga ruang Abraham Maslow, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, seminar ini dibawakan oleh dua orang narasumber yang kerap memerangi dan membatasi tersebarnya asap rokok di sembarang tempat, termasuk juga memberikan andil dalam terbentuknya Perda KTM-KTR No.5 tahun 2008 di Kota Surabaya, mereka adalah dr. Santi Martini M.Kes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair dan Priyono Adi Nugroho dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA).
“Satu batang rokok mengandung lebih dari 4000 bahan kimia, 40 diantaranya bersifat karsinogen yang menyebabkan Kanker,” tutur dr. Santi kepada para mahasiswa dan mahasiswi Unair yang datang sebagai undangan. 
Salah satu zat yang begitu dikenal oleh orang-orang yang terkandung dalam rokok adalah nikotin. Bukan rahasia lagi bahwa nikotin menyebabkan kecanduan bagi siapa saja yang menghirupnya atau mengkonsumsinya. “Nikotin sifatnya sangat adiktif, lebih daripada heroin, kokain, ataupun alkohol,” tutur dokter yang mengenakan kacamata itu. Hal itu karena nikotin menyebabkan efek langsung ke otak selama kurang dari 10 detik. 
Ia juga menekankan bahwa nikotin dapat dengan sangat mudah meresap ke tubuh melalui mulut, hidung, dan kulit tanpa harus dibakar. ”Jadi kalau kalian tempel-tempelkan rokok ke mulut saja tanpa dibakar, itu (nikotin, Red) sudah dapat meresap ke tubuh,” lanjutnya.
Sehingga hal tersebut dapat juga membahayakan petani tembakau dimana dalam kesehariannya mereka harus bersentuhan langsung dengan tanaman tembakau yang sarat akan kandungan nikotin.
Selain itu tidak ada kadar yang aman dalam penggunaan nikotin, sehingga serendah apapun kadar nikotin yang terkandung dalam suatu rokok dapat menyebabkan ketagihan. Hal tersebut dipertegas pula oleh Priyono Adi Nugroho bahwa serendah apa pun kadarnya tetap berdampak. ”Seperti contohnya yang baru-baru ini sisha, walau kadar nikotinnya hanya 0,05% saja, nikotin tetap berbahaya,” tutur Pri, panggilan akrabnya, yang juga pernah bergelut dengan kebiasaan merokok dan akhirnya berhenti.
Nikotin menyebabkan produksi adrenalin meningkat, darah lebih cepat membeku sehingga berisiko tinggi terhadap serangan jantung. Sudah begitu jelas kerugian dari merokok terutama dari segi kesehatan. Dari segi ekonomi dr. Santi mengakui bahwa sebenarnya biaya untuk membelanjakan rokok jika dikalukulasikan dapat lebih tinggi dibanding keperluan sehari-hari termasuk juga keperluan pendidikan. 
Selain itu kerugian merokok dirasakan juga dari segi lingkungan, terutama menyangkut asap yang disebabkan oleh rokok. Pada sebatang rokok yang dibakar, 25% asap dihirup oleh pengguna, 75%nya terdapat di udara bebas, lalu ketika pengguna menghembuskan asap rokok maka sebanyak 12,5% asap berada di udara bebas. Ini berarti kurang lebih 90% asap rokok memenuhi udara bebas, sehingga dalam hal ini yang paling terancam tentu saja orang-orang yang berada di sekitar pengguna rokok, atau biasa disebut dengan perokok pasif.
Seperti yang dituturkan oleh dr. Santi, maka dari itu dikeluarkan lah peraturan yang mentertibkan perokok pasif, salah satunya untuk melindungi perokok pasif karena memiliki udara bersih adalah hak setiap orang. Ia juga mensosialisasikan Perda KTR-KTM yang telah dimiliki oleh Kota Surabaya kepada para peserta.
Salah satu peserta seminar, Lukman Hakim (20) menyetujui dengan adanya peraturan untuk mendisiplinkan asap rokok. ”Zat-zatnya banyak sekali yang beracun,” tukasnya. Ia mengaku pernah sekali mencoba merokok ketika lulus SMU. Karena begitu senangnya lulus SMU itu Ia mencoba untuk merokok, alhasil tubuhnya biru semua. ”Sejak saat itu saya kapok merokok, ditawarin sampai mati pun saya tidak mau merokok,” tegas mahasiswa Fakultas Psikologi Unair ini.
Ia juga kerap mengingatkan teman-teman atau orang yang ada di sekitarnya mengenai bahaya rokok, namun ia mengungkapkan hal itu tidak begitu mudah dilakukan.
Terlalu banyak efek negatif yang disebabkan oleh rokok atau tembakau, lalu mengapa dari sekian banyak alasan orang-orang tetap saja mengisi luang waktunya dengan meokok? Seperti yang dikatakan oleh Pri mengutip perkataan Phillip Morris bahwa alasan orang merokok adalah to relax, for the taste, something to do with hands, but for the most part, people continue to smoke because they find it too difficult to quit. Rokok sebabkan candu sehingga lebih baik tidak sama sekali atau rokok yang memilih untuk merusak tubuh Anda.(fie)

Hari ini, Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono didampingi Menkes Siti Fadilah Supari membuka acara Temu Kader Menuju Pemantapan Posyandu Tahun 2009 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Pertemuan ini diikuti 900 kader Posyandu dan Tim Penggerak PKK dari 33 Provinsi dan 440 Kabupaten/ Kota. Mereka akan menerima pembekalan dan pendalaman selama 3 hari (28 – 30 Mei) mengenai materi-materi yang berkaitan dengan tema “Kader Posyandu Mewujudkan Keluarga Sehat”.

Dalam laporannya Menkes Siti Fadilah menyampaikan, pertemuan ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja Posyandu dan keterampilan teknis kader dalam memberdayakan keluarga. Diharapkan, keluarga akan mampu memelihara kesehatan ibu dan anak termasuk imunisasi, keluarga berencana, penanganan diare, keluarga sadar gizi, serta perilaku hidup bersih dan sehat.
Sehingga, melalui temu kader tingkat nasional ini lebih memantapkan jejaring dalam pembinaan kader oleh Tim Pembina Posyandu Kabupaten dan Kota, jelas Menkes.

Selain kader Posyandu dan Tim Penggerak PKK, acara ini juga dihadiri Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Posyandu Pusat yang berasal dari departemen teknis pembina Posyandu. Hadir pula Mendagri Mardiyanto selaku Ketua Dewan Penyantun Posyandu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo beserta istri, Ketua Umum Tim Penggerak PKK Effi Mardiyanto, serta pejabat dari Departemen Kesehatan dan Departemen Dalam Negeri.

Menurut Menkes, berbagai upaya terobosan dan program prioritas yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, pelayanan kesehatan bagi rakyat miskin, penanggulangan penyakit menular dan prevalensi gizi kurang, telah memperlihatkan hasil yang cukup bermakna.

“Keberhasilan program pembangunan kesehatan dapat dilihat dari turunnya angka kematian ibu (AKI) dari 307 tahun 2004 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2007, turunnya angka kematian bayi (AKB) dari 35 pada tahun 2004 menjadi 26,9 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Serta turunnya prevalensi gizi kurang dari 23,2% pada tahun 2003 menjadi 18,4% tahun 2007”, papar Menkes.

Sejak diperkenalkan tahun 1980-an, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) diakui memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan pembangunan kesehatan dan gizi. Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat. Sasaran utamanya adalah mempercepat upaya penurunan AKI dan AKB dengan prioritas pelayanan terdiri dari pelayanan KIA, Gizi, KB, Imunisasi dan penanggulangan diare.

Posyandu juga merupakan tempat pelayanan kesehatan dasar lain seperti tempat pemberian kapsul vitamin A, tablet besi, tempat pelayanan imunisasi dasar, dan lainnya. Di beberapa daerah, Posyandu bahkan telah diintegrasikan dengan pelayanan lain seperti pelayanan tumbuh kembang anak.

Posyandu terus berkembang pesat, baik jumlah maupun kualitasnya. Pada tahun 2008 tercatat sebanyak 267 ribu Posyandu tersebar di lebih dari 70 ribu desa di seluruh Indonesia.

Kinerja Posyandu sempat mengalami penurunan pada awal 2000-an sebagai akibat krisis multi-dimensi yang berkepanjangan. Hal ini diketahui dari adanya laporan gizi buruk dari berbagai wilayah tanah air. Penurunan dirasakan menyusul kurangnya keterampilan kader, tidak adanya dukungan operasional Posyandu, sarana dan prasarana yang tidak cukup serta lemahnya pembinaan.

Menyadari peran strategis Posyandu, tahun 2005 dilakukan revitalisasi secara nyata meliputi penyediaan biaya operasional Posyandu, latihan ulang kader, penyediaan sarana pendukung dan pembinaan. Secara lintas sektor juga dilaksanakan pemantapan Pokjanal Posyandu dan Jambore Kader yang rutin diadakan setiap tahun.

“Revitalisasi Posyandu dan pembentukan Desa Siaga telah berhasil meningkatkan jumlah Posyandu dari 232.000 menjadi 267.000. Begitu pula dengan jumlah Balita ditimbang di Posyandu meningkat dari 43% menjadi 74,5%, tambah Menkes.

Keberhasilan Posyandu sangat ditentukan oleh kinerja kader yang juga merupakan kader PKK serta pembinaan yang dilakukan oleh TP PKK khususnya TP PKK Kabupaten/Kota.

Dalam acara Temu Kader Menuju Pemantapan Posyandu Tahun 2009, para kader akan mendapatkan pembekalan dari Menteri Kesehatan dan pendalaman materi oleh tim dengan topik Inisiasi Menyui Dini (IMD) dan ASI Eksklusif, Pemantauan Pertumbuhan termasuk mengisi KMS, serta Pembinaan PHBS, dan Kesehatan Ibu dan Anak di Rumah Tangga. Dalam kesempatan ini, para kader juga berkesempatan melakukan dialog dengan Ibu Negara H. Ani Bambang Yudhoyono.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau e-mail puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id.

Sumber: Depkes



Bukan Siti Fadhilah jika tidak kental dengan nuansa nasionalismenya. Hal-hal yang serba asing selalu disikapinya dengan sangat hati-hati, tak terkecuali tenaga medis asing. Seperti diberitakan oleh Kompas.com, hingga saat ini, Departemen Kesehatan belum pernah menerima atau pun mengeluarkan izin praktik untuk dokter asing yang membuka praktik secara individu.

“Kalau ditemukan ada yang membuka praktik individu, maka dokter asing tersebut berarti telah membuka praktik ilegal dan harus secepatnya dikenai sanksi tegas, dideportasi dari Indonesia,” ujar Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, saat ditemui di sela-sela acara peresmian 27 desa siaga dan tujuh gedung pos kesehatan desa di Balai Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Kamis (28/5).

Saat ini, dokter asing yang ada di Indonesia biasanya berpraktik di rumah sakit asing. Izin praktik dokter-dokter yang ada di dalamnya biasanya langsung diajukan oleh rumah sakit yang bersangkutan. (foto:image.detik.com)



Bukan Siti Fadhilah jika tidak kental dengan nuansa nasionalismenya. Hal-hal yang serba asing selalu disikapinya dengan sangat hati-hati, tak terkecuali tenaga medis asing. Seperti diberitakan oleh Kompas.com, hingga saat ini, Departemen Kesehatan belum pernah menerima atau pun mengeluarkan izin praktik untuk dokter asing yang membuka praktik secara individu.

“Kalau ditemukan ada yang membuka praktik individu, maka dokter asing tersebut berarti telah membuka praktik ilegal dan harus secepatnya dikenai sanksi tegas, dideportasi dari Indonesia,” ujar Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, saat ditemui di sela-sela acara peresmian 27 desa siaga dan tujuh gedung pos kesehatan desa di Balai Desa Pucungrejo, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Kamis (28/5).

Saat ini, dokter asing yang ada di Indonesia biasanya berpraktik di rumah sakit asing. Izin praktik dokter-dokter yang ada di dalamnya biasanya langsung diajukan oleh rumah sakit yang bersangkutan. (foto:image.detik.com)


Sedia payung sebelum hujan. Seperti itulah tampaknya ynag ingin diperbuat oleh Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) Departemen Kesehatan RI. Meski bulan ini bisa dikatakan awal dari musim kemarau dan jauh dari musim hujan, namun PPK Depkes pada tanggal 28-31 Mei 2009, melaksanakan kegiatan Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam Penggunaan Sarana Evakuasi Korban Bencana di Perairan. Pelatihan digelar di Sanur Bali.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Penanggulangan Krisis, Rustam Pakaya.. Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) Meningkatkan kemampuan petugas dalam memberikan bantuan hidup dasar dan pertolongan bagi korban bencana, khususnya kerban bencana di perairan, (2) Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam menyiapkan dan menggunakan perahu karet dengan dayung maupun dengan mesin tempel, pada saat bencana banjir, (3) Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam perawatan peralatan perahu karet dan perlengkapannya sehingga dapat menunjang kesiapsiagaan penanggulangan bencana banjir, (4) Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam mengevakuasi korban bencana di perairan.
Materi-materi yang disajikan dalam pelatihan ini, antara lain:
1. Filosofi SAR
2. Overview Penanggulangan Bencana
3. Bantuan Hidup Dasar (Teori dan Praktek)
4. Pengenalan Perahu Karet, Perakitan dan Pembongkaran
5. Teknik Mengangkat dan Membawa Perahu Karet
6. Teknik Mendayung
7. Pengenalan Motor Tempel
8. Teknik Mengangkat, Membawa dan Memasang Motor Tempel
9. Teknik Penyimpanan dan Perawatan Motor Tempel
10. Teknik Evakuasi Korban Bencana di Perairan
11. Teknik Ring Boy
12. Teknik mendayung di air.
13. Teknik mengemudikan perahu karet dengan menggunakan motor temple
14. Teknik Mencuci dan Melipat Perahu Karet
Metode pengajaran yang digunakan selama kegiatan menggunakan metode ceramah (kelas), demonstrasi, drilling (praktik lapangan). Pendekatan pembelajaran dengan metode “adult training”. Interaksi belajar mengajar berjalan dua arah (two way communication) yang memungkinkan peserta didik dan instruktur bisa saling tukar informasi satu dengan lainnya.
Peserta serta narasumber kegiatan Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Dalam Penggunaan Sarana Evakuasi Korban Bencana di Perairan tahun ini sebanyak 56 orang, yang terdiri atas:
1. Dinas Kesehatan Provinsi sebanyak 3 orang
2. Rumah Sakit sebanyak 2 orang
3. Badan SAR Nasional sebanyak 3 orang
4. Badan SAR Provinsi sebanyak 5 orang
5. PMI Provinsi sebanyak 1 orang
6. KKP sebanyak 1 orang
7. Unit Utama Depkes sebanyak 11 orang
8. Perwakilan WHO sebanyak 1 orang
9. PPK Depkes sebanyak 29 orang
(sumber : http://www.ppk-depkes.org)

Laman Berikutnya »