suarasurabaya.net| Pemerintah segera mengganti seluruh stock piling Tamiflu kadaluwarsa yang tersimpan di Dinkes seluruh Indonesia dengan stok yang baru. Langkah ini dilakukan menyusul peningkatan status tertinggi kewaspadaan pandemi virus H1N1 oleh Who kemarin.

Menurut SITI FADILAH SUPARI Menteri Kesehatan dalam jumpa pers di Ruang VIP Bandara Juanda, Jumat (12/06), sebagian besar stok Tamiflu yang ada sekarang memang sudah kadaluwarsa karena didistribusikan lewat pengadaan pada tahun 2006. “Ada juga yang kita distribusikan dari pengadaan tahun 2007, tapi sudah mendekati expired datenya tahun 2009 ini,” kata dia.

Untuk itu Menkes minta pada seluruh Dinkes di Indonesia untuk melaporkan stok Tamifu yang dimilikinya. Jika ada yang habis atau kadaluwarsa diharapkan untuk segera dikirimkan ke Departemen Kesehatan agar bisa diganti dengan yang baru.

Dalam status tertinggi kewaspadaan pandemi global, kata Menkes, WHO punya kewajiban untuk mendistribusikan vaksin H1N1 ke seluruh negara di dunia secara adil. Namun diakuinya, hingga saat ini Pemerintah Indonesia belum mendapatkan kabar terkait distribusi vaksin tersebut dari WHO.

Diakui pula oleh Menkes, distribusi vaksin ini tidak gratisan. “Kita memang harus beli. Tapi kami tetap berkomitmen untuk mengembangkan sendiri vaksin untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga tidak perlu tergantung perusahaan farmasi asing,” kata SITI FADILAH SUPARI.

Ditambahkannya, Indonesia tidak terlalu ‘kaget’ dengan peningkatan status pandemi H1N1 oleh WHO ini karena Indonesia telah memiliki pengalaman dalam melakukan penanggulangan flu burung sejak tahun 2006. Karena itu, kata Menkes lagi, Indonesia terbilang siap dengan stok obat-obatan, peralatan medis, dan standar penanganan pandemi seperti H1N1.(Laporan Eddy Prasetyo)