Juli 2009


KEDIRI | SURYA Online – Lima santri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur (Jatim),  yang diduga terinfeksi virus flu babi (A-H1N1) yang sebelumnya dirawat di RSUD Pelem Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (Jatim), kini dirujuk ke RS Saiful Anwar Malang.

“Kami sengaja merujuk kelima pasien ke Malang, agar mereka mendapatkan penanganan lebih baik,” kata Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) RSUD Pelem, A Razik, Jumat (31/7).

Razik mengatakan, dirujuknya kelima santri Ponpes Tebu Ireng tersebut atas dasar permintaan keluarga. Selain itu, fasilitas di Malang juga lebih baik ketimbang di Kediri.
Dengan dirujuk tersebut, pihaknya berharap kondisi kelima santri terebut menjadi lebih baik, mengingat kondisi tubuh mereka lemah saat dibawa ke Pare.

Menyinggung dengan hasil uji laboratorium, Razik mengaku pihaknya belum mendapatkannya. Namun, karena kelima santri tersebut sudah terlanjur dirujuk ke Malang, pihaknya menyerahkan pada rumah sakit rujukan. “Karena kelima pasien sudah dirujuk ke Malang, maka untuk hasil laboratorium kami serahkan pada rumah sakit rujukan,” kata Razik.

Sebelumnya, sebanyak lima santri dari Ponpes Tebu Ireng, Jombang dirujuk ke Kediri, setelah sempat dirawat di Poliklinik Ponpes As Salam karena diduga terinfeksi virus flu babi.
Selain di rumah sakit tersebut, dua pasien dari lokasi yang sama juga dirawat di RS HVA Toloengredjo, Kediri. Mereka juga sakit influenza dengan gejala mirip flu babi, seperti panas, tenggorokan sakit, dan disertai batuk.

Kedua pasien itu juga dirujuk ke Malang untuk mendapatkan fasilitas dan penanganan penyakit lebih baik. ant

Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009 mengambil tema “Gaul Ok, Narkoba No Way, Prestasi My Way”, dimana anak-anak khususnya usia sekolah menjadi fokus dalam pemberantasan narkoba. Pemilihan tema dianggap relevan karena penyalahgunaan narkoba tidak saja terjadi pada orang dewasa, namun usia remaja bahkan usia yang lebih muda.

Dalam sambutanya saat membuka seminar peringatan Hari Anak Nasional (29/07/2009) di Jakarta, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dr. Budihardja, DTM&H, MPH menyambut baik tema yang diangkat dalam peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009, karena anak sekolah merupakan kelompok penduduk terbesar yaitu 30% (65 juta) dari 236 juta penduduk Indonesia.
Menurut dr. Budihardja, pentingnya pemberantasan penyalahgunaan narkoba pada usia sekolah terkait dengan dampaknya yang berbahaya, yaitu menimbulkan gangguan fisik, mental emosional (emosi labil, keras kepala, tidak bisa mengontrol diri) dan kehidupan sosial. Selain itu, dapat merusak organ vital seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, hati, kesehatan reproduksi, dan lain-lain.

Pada peringatan Hari Narkoba Sedunia 26 Juni 2008 lalu, dinyatakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 4 juta orang dan 70% diantaranya adalah anak sekolah.

Dr. Budihardja menambahkan, berdasarkan hasil survey Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba Badan Narkotika Nasional tahun 2007, lebih dari 22.000 kasus narkoba terjadi di kalangan siswa SMA, 6.000 kasus siswa SMP, dan 3.000 kasus siswa SD. Sedangkan jumlah kasus narkoba menurut data Badan Narkotika Nasional, meningkat dari 3.617 kasus menjadi 17.355 kasus (5 kali lipat) dalam tahun 2001-2006.

Sedangkan dari data Departemen Kesehatan tahun 2006, pengguna narkoba suntik merupakan penyumbang tertinggi penyebaran HIV. 46% penderita HIV/AIDS ditularkan melalui jarum suntik, tambah dr. Budihardja.

Penanggulangan masalah narkoba, menurut dr. Budihardja merupakan masalah yang harus ditanggulangi bersama baik lintas program, maupun lintas sektor serta melibatkan pihak swasta, LSM, media cetak, dan elektronik.

Merespon permasalahan tersebut Departemen Kesehatan telah membentuk fasilitator khusus dalam pelayanan kesehatan remaja dan pemberdayaan remaja sebagai konselor bagi kelompok sebayanya. Pelayanan kesehatan remaja dilakukan berupa upaya promotif, preventif, dan kuratif serta rehabilitatif di dalam dan di luar gedung puskesmas, baik remaja sekolah maupun luar sekolah.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Sumber: Depkes

Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009 mengambil tema “Gaul Ok, Narkoba No Way, Prestasi My Way”, dimana anak-anak khususnya usia sekolah menjadi fokus dalam pemberantasan narkoba. Pemilihan tema dianggap relevan karena penyalahgunaan narkoba tidak saja terjadi pada orang dewasa, namun usia remaja bahkan usia yang lebih muda.

Dalam sambutanya saat membuka seminar peringatan Hari Anak Nasional (29/07/2009) di Jakarta, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dr. Budihardja, DTM&H, MPH menyambut baik tema yang diangkat dalam peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009, karena anak sekolah merupakan kelompok penduduk terbesar yaitu 30% (65 juta) dari 236 juta penduduk Indonesia.
Menurut dr. Budihardja, pentingnya pemberantasan penyalahgunaan narkoba pada usia sekolah terkait dengan dampaknya yang berbahaya, yaitu menimbulkan gangguan fisik, mental emosional (emosi labil, keras kepala, tidak bisa mengontrol diri) dan kehidupan sosial. Selain itu, dapat merusak organ vital seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, hati, kesehatan reproduksi, dan lain-lain.

Pada peringatan Hari Narkoba Sedunia 26 Juni 2008 lalu, dinyatakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 4 juta orang dan 70% diantaranya adalah anak sekolah.

Dr. Budihardja menambahkan, berdasarkan hasil survey Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba Badan Narkotika Nasional tahun 2007, lebih dari 22.000 kasus narkoba terjadi di kalangan siswa SMA, 6.000 kasus siswa SMP, dan 3.000 kasus siswa SD. Sedangkan jumlah kasus narkoba menurut data Badan Narkotika Nasional, meningkat dari 3.617 kasus menjadi 17.355 kasus (5 kali lipat) dalam tahun 2001-2006.

Sedangkan dari data Departemen Kesehatan tahun 2006, pengguna narkoba suntik merupakan penyumbang tertinggi penyebaran HIV. 46% penderita HIV/AIDS ditularkan melalui jarum suntik, tambah dr. Budihardja.

Penanggulangan masalah narkoba, menurut dr. Budihardja merupakan masalah yang harus ditanggulangi bersama baik lintas program, maupun lintas sektor serta melibatkan pihak swasta, LSM, media cetak, dan elektronik.

Merespon permasalahan tersebut Departemen Kesehatan telah membentuk fasilitator khusus dalam pelayanan kesehatan remaja dan pemberdayaan remaja sebagai konselor bagi kelompok sebayanya. Pelayanan kesehatan remaja dilakukan berupa upaya promotif, preventif, dan kuratif serta rehabilitatif di dalam dan di luar gedung puskesmas, baik remaja sekolah maupun luar sekolah.

Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009 mengambil tema “Gaul Ok, Narkoba No Way, Prestasi My Way”, dimana anak-anak khususnya usia sekolah menjadi fokus dalam pemberantasan narkoba. Pemilihan tema dianggap relevan karena penyalahgunaan narkoba tidak saja terjadi pada orang dewasa, namun usia remaja bahkan usia yang lebih muda.

Dalam sambutanya saat membuka seminar peringatan Hari Anak Nasional (29/07/2009) di Jakarta, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dr. Budihardja, DTM&H, MPH menyambut baik tema yang diangkat dalam peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009, karena anak sekolah merupakan kelompok penduduk terbesar yaitu 30% (65 juta) dari 236 juta penduduk Indonesia.
Menurut dr. Budihardja, pentingnya pemberantasan penyalahgunaan narkoba pada usia sekolah terkait dengan dampaknya yang berbahaya, yaitu menimbulkan gangguan fisik, mental emosional (emosi labil, keras kepala, tidak bisa mengontrol diri) dan kehidupan sosial. Selain itu, dapat merusak organ vital seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, hati, kesehatan reproduksi, dan lain-lain.

Pada peringatan Hari Narkoba Sedunia 26 Juni 2008 lalu, dinyatakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 4 juta orang dan 70% diantaranya adalah anak sekolah.

Dr. Budihardja menambahkan, berdasarkan hasil survey Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba Badan Narkotika Nasional tahun 2007, lebih dari 22.000 kasus narkoba terjadi di kalangan siswa SMA, 6.000 kasus siswa SMP, dan 3.000 kasus siswa SD. Sedangkan jumlah kasus narkoba menurut data Badan Narkotika Nasional, meningkat dari 3.617 kasus menjadi 17.355 kasus (5 kali lipat) dalam tahun 2001-2006.

Sedangkan dari data Departemen Kesehatan tahun 2006, pengguna narkoba suntik merupakan penyumbang tertinggi penyebaran HIV. 46% penderita HIV/AIDS ditularkan melalui jarum suntik, tambah dr. Budihardja.

Penanggulangan masalah narkoba, menurut dr. Budihardja merupakan masalah yang harus ditanggulangi bersama baik lintas program, maupun lintas sektor serta melibatkan pihak swasta, LSM, media cetak, dan elektronik.

Merespon permasalahan tersebut Departemen Kesehatan telah membentuk fasilitator khusus dalam pelayanan kesehatan remaja dan pemberdayaan remaja sebagai konselor bagi kelompok sebayanya. Pelayanan kesehatan remaja dilakukan berupa upaya promotif, preventif, dan kuratif serta rehabilitatif di dalam dan di luar gedung puskesmas, baik remaja sekolah maupun luar sekolah.


TANYA JAWAB SEPUTAR INFLUENZA BARU H1N1

1. Apa yang disebut dengan influenza baru H1N1?
Influenza baru H1N1 merupakan influenza (flu) yang disebabkan oleh virus influenza tipe A
subtipe H1N1 baru strain Meksiko. Virus ini tidak ada kaitannya dengan virus influenza
musiman yang ada selama ini (seasonal influenza).

2. Apa perbedaan influenza baru H1N1 dengan flu biasa dan flu burung?
Influenza baru H1N1 cukup berbahaya, mudah menular dan dapat menimbulkan kematian
karena virus strain baru influenza H1N1 ini lebih berbahaya dibanding flu musiman seperti
virus flu A H1N1, H2N1, H3N1 dan H3N2 yang biasa terdapat pada sesorang yang
menderita flu musiman. Penyebaran flu baru H1N1 telah menyebar di 99 negara dengan
55.867 kasus yang dilaporkan dan 238 kematian, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO)
menaikkan status kewaspadaan pandemi influenza baru A H1N1 dari fase 5 ke fase 6 yang
merupakan fase tertinggi. Mekipun angka kematiannya (Case Fatality Rate/CFR) hanya
sekitar 0,5% namun flu baru H1N1 ini mudah menular. Sampai saat ini (24 Juni 2009) di
Indonesia sudah dilaporkan 2 kasus positif flu H1N1 dan keduanya merupakan kasus impor
yang artinya mereka tertular dari negara lain.
Sedangkan flu burung H5N1 juga sangat berbahaya karena mematikan. Angka
kematiannya lebih dari 80%. Namun saat ini di Indonesia penularan flu burung H5N1 masih
sebatas dari unggas ke manusia (fase 3). Sampai saat ini belum ada penularan flu burung
H5N1 antar manusia.

3. Bagaimana seseorang dapat tertular influenza baru H1N1?
Virus dapat menular dari manusia ke manusia semudah seperti flu musiman biasa yang
dapat ditularkan lewat paparan percikan ludah (droplet) seorang yang terinfeksi melalui
batuk atau bersin yang terhirup atau yang mencemari tangan atau permukaan benda.
Untuk mencegah terjadinya penularan, seorang yang menderita flu harus melakukan etika
batuk/bersin dengan menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, bila flu berat
sebaiknya tinggal di rumah sementara waktu, cuci tangan setelah beraktivitas, dan menjaga
jarak dengan orang yang sehat.

4. Apa gejala seseorang menderita flu baru H1N1?
Gejala flu baru H1N1 yang dapat sama dengan seperti flu biasa (influenza like-illnes),
seperti demam (> 38oC), batuk, pilek, letih, lesu, sakit tenggorokan mungkin disertai mual,
muntah dan diare, bila semakin berat akan mengakibatkan sesak napas atau napas sesak
yang menyebabkan terjadinya pneumonia yang mengakibatkan kematian.

5. Seberapa besar kita harus waspada terhadap penyebaran flu baru H1N1?
Kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini karena pada tanggal 11 Juni
2009, dunia telah dinyatakan Pandemi oleh WHO.
Sebelumnya kita mengenal flu musiman biasa menyerang berbagai lapisan masyarakat.
Banyak masyarakat yang memiliki kekebalan terhadap virus flu musiman tersebut sehingga
memungkinkan terbatasnya penyebaran infeksi. Namun kasus kematian akibat flu musiman
di negara dengan 4 musim masih cukup tinggi (5% -15%). Sedangkan virus influenza baru
A H1N1 merupakan virus strain baru (Meksiko) yang sebagian besar orang belum memiliki
kekebalan atau mempunyai kekebalan yang lemah kemudian bisa lebih parah dibandingkan
flu musiman. Tingkat keparahan penyakit ini mulai dari ringan sampai berat yang
mengakibatkan kematian. Sebagian besar orang yang terjangkit virus tersebut mengalami
sakit yang ringan dan dapat sembuh tanpa obat antiviral atau tanpa pelayanan medis. Pada
kasus yang lebih parah, lebih dari separuh dirawat di rumah sakit akibat minimnya
pelayanan medis, tidak tersedianya antiviral yang cukup dan sistem kekebalan yang lemah.

6. Bagimana cara untuk mencegah tertular flu baru H1N1?

  1. Biasakan cuci tangan memakai sabun dengan air bersih sesering mungkin. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan di sekitar Anda.
  2. Etika batuk/bersin yaitu bila bersin atau batuk, tutup hidung dan mulut dengan tisu dan tisu dibuang di tempat sampah. Jaga jarak atau kontak dengan orang lain terutama jika terlihat sakit flu. Jangan meludah di sembarang tempat.
  3. Bila mengalami gejala flu segera ke dokter, Puskesmas, Rumah Sakit atau klinik terdekat.
7. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa flu baru H1N1 telah
mencapai fase 6 dalam kewaspadaan pandemi, apa yang perlu Anda lakukan untuk
mencegah tertular flu baru H1N1?
  1. Hindari kontak dengan orang yang yang berasal atau baru bepergian dari negaraterjangkit (lihat informasi negara yang terjangkit flu ini yang dikeluarkan oleh WHO).
  2. Apabila sangat diperlukan harus bepergian ke negara terjangkit, lakukan tindakan pencegah yang diperlukan seperti cuci tangan sesering mungkin, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, hindari kontak dengan orang yang sedang flu, dan menggunakan masker yang telah direkomendasikan oleh Pejabat Berwenang Kesehatan setempat.
  3. Bila menderita flu, segeralah periksa ke klinik terdekat, dokter praktek, Puskesmas, atau Rumah Sakit. Sehingga semakin cepat diperiksa kesehatannya akan semakin cepat mendapatkan pelayanan kesehatan.
8. Apakah di Indonesia sudah ada yang terjangkit flu baru H1N1 (strain Meksiko)?
Sampai saat ini di Indonesia sudah dilaporkan adanya 2 (dua) penderita flu baru H1N1.
Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada hari Rabu, 24 Juni telah menyatakan
bahwa dua kasus positif Influenza A H1N1 tersebut merupakan kasus impor, artinya mereka
tertular dari negara lain. Mereka itu adalah WA (Pria, 37 tahun), warga negara Indonesia
(WNI), pekerjaan pilot. Sebelum sakit, WA pada tanggal 14 Juni 2009 terbang ke Perth,
Australia dan kemudian tanggal 18 Juni 2009 pergi ke Hongkong. Pada tanggal 19 Juni
2009 yang lalu, WA masuk RS Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dengan keluhan
demam. Kondisi kesehatan pasien membaik dan saat ini masih diisolasi di rumah sakit
tersebut.
Kasus kedua adalah BM (wanita, 22 tahun), warga negara Inggris, tinggal di Melbourne
Australia. Ia berkunjung ke Bali tanggal 19 Juni 2009. Tanggal 20 Juni 2009 BM merasa
panas dan batuk. Kemudian berobat ke rumah sakit dengan membawa Health Alert Card
yang didapat dari Bandara Ngurah Rai dan langsung dirujuk ke RSUP Sanglah Denpasar.
Kondisi pasien saat ini baik dan masih diisolasi di rumah sakit tersebut.

Departemen Kesehatan telah menetapkan langkah-langkah untuk mengatasi penyakit yang
sudah merebak di 99 negara di dunia, dengan:

  1. Meningkatkan kewaspadaan di seluruh jajaran kesehatan serta mengirimkan Surat Edaran baru dari Menkes dan Dirjen P2PL yang menyatakan adanya kasus influenza H1N1 baru di Bali dan Jakarta.
  2. Meningkatkan aktivitas semua fasilitas kesehatan di RS, KKP, Laboratorium dan sarana kesehatan lainnya.
  3. Meningkatkan kesiapan logistik serta kemampuan SDM.
  4. Meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat (Jumpa Pers, Iklan Layanan Masyarakat, Talkshow di Radio dan Televisi, Poster dan Leaflet) .
  5. Masyarakat dapat menghubungi Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) : Telp. (021) 4257125; Fax : (021) 42877588 ; Email : poskoklbp2pl@yahoo.com ; Call Center: (021) 30413700; Website Depkes : www.depkes.go.id dan www.penyakitmenular.info
9. Apakah sudah ada obat atau vaksin yang ampuh untuk flu baru H1N1?
Sampai saat ini belum ada vaksin yang ampuh untuk mencegahanya. Obat antiviral yang
masih efektif untuk pengobatan adalah Oseltamifir (Tamiflu), dengan catatan segera
mendapatkan pengobatan setelah merasa sakit flu.

Masyarakat diminta tetap waspada hadapi pandemi Influenza A H1N1. Berperilaku hidup bersih dan sehat (PBHS) mempunyai andil besar untuk ikut mencegah penularan influenza A H1N1. Perilaku tersebut diantaranya mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, dan melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter.

Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Namun angka kematiannya sangat rendah yakni 0,4%.

A. Respons Departemen Kesehatan dalam Penanggulangan Flu baru H1N1

  1. Menteri Kesehatan koordinasikan pencegahan dan penanggulangan Influenza A H1N1
  2. Surat Edaran Dirjen PP dan PL Departemen Kesehatan RI
  3. Surat Edaran Dirjen Bina Pelayanan Medik
  4. Surat Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat

B. Siaran Pers

  1. 27 Juli 2009 Tambahan 16 Kasus Baru Influenza A H1N1
  2. 27 Juli 2009 Tambahan 38 Kasus Influenza A H1N1
  3. 25 Juli 2009 Kasus Positif Influenza A H1N1 Tambah 19 Kasus
  4. 24 Juli 2009 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1 Tambah 21 Orang, Satu Meninggal
  5. 23 Juli 2009 Tambahan Kasus Positif Influenza A H1N1
  6. 22 Juli 2009 Masyarakat Diminta Tetap Waspada Hadapi Pandemi Influenza A H1N1
  7. 20 Juli 2009 Masyarakat Dapat Mencegah Penularan Influenza A H1N1
  8. 16 Juli 2009 Masyarakat Dapat Mencegah Penularan Influenza A H1N1
  9. 15 Juli 2009 Walau Angka Kematian Rendah, Masyarakat Diminta Tetap Waspada
  10. 14 Juli 2009 26 Kasus Baru Positif Influenza A H1N1
  11. 13 Juli 2009 Masyarakat Diminta Tetap Waspada Hadapi Penyebaran Influenza A H1N1
  12. 12 Juli 2009 13 WNI Positif Terjangkit Influenza A H1N1 di Korea
  13. 12 Juli 2009 Di Indonesia Sudah Ada 64 Kasus Influenza A H1N1
  14. 9 Juli 2009 Dua Puluh Empat Tambahan Kasus Baru Positif Influenza A H1N1
  15. 7 Juli 2009 Pasien H1N1 Tambah Delapan Kasus
  16. 4 Juli 2009 Tambahan Kasus Baru Influenza A H1N1
  17. 30 Juni 2009 Untuk Cegah Flu Babi: Penumpang Wajib Kenakan Masker
  18. 28 Juni 2009 Enam Kasus Baru Influenza A H1N1
  19. 24 Juni 2009 Menteri Kesehatan Laporkan Dua Kasus Influenza A H1N1
  20. 15 Juni 2009 Menteri Kesehatan Koordinasikan Pencegahan dan Penanggulangan Influenza A Baru H1N1

C. Tanya Jawab Seputar Flu A baru H1N1

D. Peraturan-perundangan terkait Penanggulangan Penyakit Menular Potensi Wabah/KLB

E. Informasi Jumlah Kasus Flu A Baru H1N1 di Dunia

F. Komunikasi Risiko

G. Surveilans Epidemiologi

  1. Petunjuk Teknis Surveilans Epidemiologi Flu H1N1

H. Virologi

I. Perbekalan Kesehatan/Farmasi

J. Penatalaksanaan Kasus

Dalam rangka menangani pasien flu baru H1N1, telah disediakan 100 Rumah Sakit yang juga merupakan RS rujukan Flu Burung (Avian Influenza). Daftar 100 Rumah Sakit lebih lanjut terlampir di sini.
Penatalaksanaan kasus Flu baru H1N1 terus dikembangkan saat ini oleh Departemen Kesehatan. Pedoman penatalaksanaan flu baru H1N1 dapat merujuk pada tatalaksana kasus avian influenza.

Sumber : surabaya.detik.com

Tim Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan mengunjungi Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (30/7/2009). Tim Dirjen Depkes itu juga memeriksa kesehatan para santri yang masih diisolasi.

Seusai memeriksa santri yang diisolasi di Wisma Ilyas, Dirjen P3L Depkes, Tjandra Yoga Aditama menyatakan para santri tidak terserang virus flu babi atau A-H1N1 melainkan hanya flu berat.

“Virus yang diderita para santri, tidak ada hubungannya dengan virus flu babi karena tidak berhubungan dengan babi,” kata Tjandra usai menjenguk santri yang diisolasi.

Karena tidak terkait dengan virus flu babi, para santri diharap tidak resah. Namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan.

Menurut Tjandra, data yang dimiliki Depkes RI menyebutkan, 90 persen penderita virus A-H1N1 bisa sembuh tanpa harus masuk rumah sakit atau dirawat inap dengan perlakuan khusus. Sedang tingkat kematian penderita virus tersebut hanya 0,4 persen saja.

Tjandra mendukung langkah pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang mengisolasi para santri yang menderita flu. “Biar tidak menular ke para santri lain,” jelasnya.

Sebelumnya puluhan santri mengalami demam tinggi disertai batuk secara mendadak. Dinas Kesehatan Jombang mengambil sample darah dan hasilnya 5 santri Pondok Pesantren Tebuireng positif mengidap virus flu babi.(fat/fat)

Laman Berikutnya »