DBD



Hari Rabu kemarin (05/08/09) Menkes Dr.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) menyaksikan penandatangan kerja sama antara Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. dr.Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K).MARS dengan Direktur Utama PT. Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Kantor Departemen Kesehatan, Jakarta. Kerjasama tersebut terkait dengan Program “Perlindungan Keluarga dengan Kasih Sayang (Peluk Asa) “Perang Melawan Demam Berdarah”. Program ini secara garis besar akan diselenggarakan selama tiga tahun. Pada tahun pertama akan melakukan metode uji coba pada 14 Kabupaten/Kota yang memiliki kasus Demam Berdarah relatif tinggi yaitu Medan, Bandar Lampung, DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Cimahi, DIY, Surabaya, Mataram, Balikpapan, Menado, Makassar dan Sorong.

Dalam sambutannya Menkes menyambut baik kerjasama ini, karena kemitraan ini penting dan strategis. Penting karena Departemen Kesehatan memerlukan mitra dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan, karena tidak mungkin dapat mengatasi sendiri masalah tersebut. Strategis karena substansi kerjasama ini akan dapat mempercepat peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan hidup sehat. Produk kerjasama ini berupa informasi atau pesan kesehatan yang dapat disebar-luaskan melalui media elektronik dan dapat diakses oleh semua pengguna Telkomsel.
Upaya yang dikemas dalam bentuk “Peluk Asa” ini merupakan bagian dari aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) yang tentunya perlu didukung sehingga materi yang disajikan atau ditayangkan dapat sejalan dengan visi dan misi Departemen Kesehatan. Dengan demikian, diharapkan program edutainment “Peluk Asa” dapat mengurangi kejadian DBD, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat dalam membangun upaya kesehatan berbasis masyarakat, ujar Menkes.

Menkes berharap, kerjasama dengan Telkomsel yang berawal memerangi Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui peningkatan kesadaran masyarakat, selanjutnya diperluas dengan upaya mencegah penyakit, menjaga, memelihara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang cenderung menyebar luas dan berpotensi menjadi wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh wilayah DKI Jakarta, sepanjang tahun 2009 kasus DBD tertinggi pada bulan April sebanyak 4.261 penderita, dengan tiga orang meninggal. Sedangkan kasus kematian tertinggi akibat DBD di sepanjang tahun 2009 ini pada bulan Januari dengan delapan kasus kematian dari 3.130 penderita. Hingga Juli 2009 ini berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, total penderita DBD di seluruh wilayah DKI Jakarta adalah 22.609 orang dengan 31 kematian, tambah Menkes.

Menkes mengingatkan, upaya pemberantasan penyakit DBD harus terintegrasi mulai dari pencegahan, penemuan penderita, pengamatan penyakit, penyelidikan epidemiologi, penanggulangan, dan penyuluhan kepada masyarakat. Selain itu, dilakukan pula penggerakan masyarakat melalui program 3M Plus (Menutup wadah penampungan air, Mengubur atau membakar barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk, dan Menguras atau mengganti air di penampungan air). Serta menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk oles, menggunakan kelambu saat tidur dan menaburkan bubuk abate.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan masyarakat adalah membiasakan diri menjaga sanitasi lingkungan dan tempat tinggal tetap bersih dan sehat. Hal ini merupakan kunci dalam pengendalian terhadap bahaya demam berdarah, ujar dr. Siti Fadilah.

Meskipun informasi tentang penyebab dan cara pencegahan sudah disosialisasikan kepada masyarakat, tetapi sampai saat ini angka kesakitan dan kematian akibat DBD masih relatif tinggi. Diharapkan kerjasama dengan Telkomsel dapat mendorong terbentuk sukarelawan yang berasal dari tokoh masyarakat untuk membimbing, mendampingi dan mengaktifitasi masyarakat untuk mandiri menolong dirinya sendiri, tambah Menkes.

Menkes mengakui, betapa kuatnya peran SMS dalam kehidupan masyarakat, maka dimasa mendatang kerjasama lebih ditingkatkan lagi, khususnya dalam mem-broadcast pesan-pesan kesehatan melalui SMS, dalam upaya meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ditengah masyarakat.


Hari Rabu kemarin (05/08/09) Menkes Dr.dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) menyaksikan penandatangan kerja sama antara Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. dr.Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K).MARS dengan Direktur Utama PT. Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Kantor Departemen Kesehatan, Jakarta. Kerjasama tersebut terkait dengan Program “Perlindungan Keluarga dengan Kasih Sayang (Peluk Asa) “Perang Melawan Demam Berdarah”. Program ini secara garis besar akan diselenggarakan selama tiga tahun. Pada tahun pertama akan melakukan metode uji coba pada 14 Kabupaten/Kota yang memiliki kasus Demam Berdarah relatif tinggi yaitu Medan, Bandar Lampung, DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Cimahi, DIY, Surabaya, Mataram, Balikpapan, Menado, Makassar dan Sorong.

Dalam sambutannya Menkes menyambut baik kerjasama ini, karena kemitraan ini penting dan strategis. Penting karena Departemen Kesehatan memerlukan mitra dalam upaya penanggulangan masalah kesehatan, karena tidak mungkin dapat mengatasi sendiri masalah tersebut. Strategis karena substansi kerjasama ini akan dapat mempercepat peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mewujudkan hidup sehat. Produk kerjasama ini berupa informasi atau pesan kesehatan yang dapat disebar-luaskan melalui media elektronik dan dapat diakses oleh semua pengguna Telkomsel.
Upaya yang dikemas dalam bentuk “Peluk Asa” ini merupakan bagian dari aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) yang tentunya perlu didukung sehingga materi yang disajikan atau ditayangkan dapat sejalan dengan visi dan misi Departemen Kesehatan. Dengan demikian, diharapkan program edutainment “Peluk Asa” dapat mengurangi kejadian DBD, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif dari masyarakat dalam membangun upaya kesehatan berbasis masyarakat, ujar Menkes.

Menkes berharap, kerjasama dengan Telkomsel yang berawal memerangi Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui peningkatan kesadaran masyarakat, selanjutnya diperluas dengan upaya mencegah penyakit, menjaga, memelihara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang cenderung menyebar luas dan berpotensi menjadi wabah atau Kejadian Luar Biasa (KLB). Sebagai contoh wilayah DKI Jakarta, sepanjang tahun 2009 kasus DBD tertinggi pada bulan April sebanyak 4.261 penderita, dengan tiga orang meninggal. Sedangkan kasus kematian tertinggi akibat DBD di sepanjang tahun 2009 ini pada bulan Januari dengan delapan kasus kematian dari 3.130 penderita. Hingga Juli 2009 ini berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta, total penderita DBD di seluruh wilayah DKI Jakarta adalah 22.609 orang dengan 31 kematian, tambah Menkes.

Menkes mengingatkan, upaya pemberantasan penyakit DBD harus terintegrasi mulai dari pencegahan, penemuan penderita, pengamatan penyakit, penyelidikan epidemiologi, penanggulangan, dan penyuluhan kepada masyarakat. Selain itu, dilakukan pula penggerakan masyarakat melalui program 3M Plus (Menutup wadah penampungan air, Mengubur atau membakar barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk, dan Menguras atau mengganti air di penampungan air). Serta menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk oles, menggunakan kelambu saat tidur dan menaburkan bubuk abate.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan masyarakat adalah membiasakan diri menjaga sanitasi lingkungan dan tempat tinggal tetap bersih dan sehat. Hal ini merupakan kunci dalam pengendalian terhadap bahaya demam berdarah, ujar dr. Siti Fadilah.

Meskipun informasi tentang penyebab dan cara pencegahan sudah disosialisasikan kepada masyarakat, tetapi sampai saat ini angka kesakitan dan kematian akibat DBD masih relatif tinggi. Diharapkan kerjasama dengan Telkomsel dapat mendorong terbentuk sukarelawan yang berasal dari tokoh masyarakat untuk membimbing, mendampingi dan mengaktifitasi masyarakat untuk mandiri menolong dirinya sendiri, tambah Menkes.

Menkes mengakui, betapa kuatnya peran SMS dalam kehidupan masyarakat, maka dimasa mendatang kerjasama lebih ditingkatkan lagi, khususnya dalam mem-broadcast pesan-pesan kesehatan melalui SMS, dalam upaya meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ditengah masyarakat.