dokter



Keterlaluan..! iseng main pistol, seorang oknum TNI tanpa sengaja telah menghilangkan nyawa seorang dokter tidak tetap (PTT) departemen kesehatan yang sedang menjalankan tugas di pelosok Maluku. Namnya dr. Lidya Olivia Pieter (24 th), tertembak di tempat tugasnya Puskesmas Kanibal Seram Bagian Barat, Maluku tanggal 12 Agustus 2009.

Sumber resmi Departemen Kesehatan RI menyebutkan dr. Lidya Olivia Pieter adalah dokter PTT yang ditugaskan di Puskesmas Kanibal sejak 1 April 2009. Hari itu, 12 Agustus pk. 13.30 waktu setempat, dr. Lidya sedang istirahat di tempat tugasnya, tiba-tiba datang seorang oknum TNI memainkan pistol, tetapi tanpa disengaja pistol meletus mengenai bahu dr Lidya dan akhirnya meninggal dunia.

Saking pelosoknya, proses evakuasi jenazah harus dilakukan dengan bergonti-ganti kendaraan. Dari Puskesmas Kanibal melalui jalan darat ke Pendopo Kabupaten Seram Bagian Barat. Dari pendopo Kabupaten Seram, jenazah dibawa ke Ambon menggunakan kapal feri. Baru setelah dia Ambon jenazah diterbangkan menuju Jakarta menggunakan pesawat.

Menteri Kesehatan RI, Siti Fadhilah Supari menyebutnya sebagai pahlawan kesehatan sekaligus memberikan penghargaan atas jasa dan pengorbanannya berupa piagam penghargaan Lencana Ksatria Bakti Husada Arutala serta uang duka kepada orang tua korban.

Meski disebutkan iseng, namun kejadian ini tetap harus diusut tuntas sesuai hukum yang berlaku. Sekaligus menjadi pelajaran bagi aparat keamanan dan atau siapapun untuk tidak bermain-main dengan senjata api. Apalagi sampai merenggut nyawa seorang dokter yang sedang menjalankan tugas mulia jauh di pelosok negeri ini. Terlalu murah nyawa para pelayan masyarakat ini dibandingkan ulah iseng. Sekali lagi, keterlalun…!! (Sumber Foto: waspada.co.id)


Keterlaluan..! iseng main pistol, seorang oknum TNI tanpa sengaja telah menghilangkan nyawa seorang dokter tidak tetap (PTT) departemen kesehatan yang sedang menjalankan tugas di pelosok Maluku. Namnya dr. Lidya Olivia Pieter (24 th), tertembak di tempat tugasnya Puskesmas Kanibal Seram Bagian Barat, Maluku tanggal 12 Agustus 2009.

Sumber resmi Departemen Kesehatan RI menyebutkan dr. Lidya Olivia Pieter adalah dokter PTT yang ditugaskan di Puskesmas Kanibal sejak 1 April 2009. Hari itu, 12 Agustus pk. 13.30 waktu setempat, dr. Lidya sedang istirahat di tempat tugasnya, tiba-tiba datang seorang oknum TNI memainkan pistol, tetapi tanpa disengaja pistol meletus mengenai bahu dr Lidya dan akhirnya meninggal dunia.

Saking pelosoknya, proses evakuasi jenazah harus dilakukan dengan bergonti-ganti kendaraan. Dari Puskesmas Kanibal melalui jalan darat ke Pendopo Kabupaten Seram Bagian Barat. Dari pendopo Kabupaten Seram, jenazah dibawa ke Ambon menggunakan kapal feri. Baru setelah dia Ambon jenazah diterbangkan menuju Jakarta menggunakan pesawat.

Menteri Kesehatan RI, Siti Fadhilah Supari menyebutnya sebagai pahlawan kesehatan sekaligus memberikan penghargaan atas jasa dan pengorbanannya berupa piagam penghargaan Lencana Ksatria Bakti Husada Arutala serta uang duka kepada orang tua korban.

Meski disebutkan iseng, namun kejadian ini tetap harus diusut tuntas sesuai hukum yang berlaku. Sekaligus menjadi pelajaran bagi aparat keamanan dan atau siapapun untuk tidak bermain-main dengan senjata api. Apalagi sampai merenggut nyawa seorang dokter yang sedang menjalankan tugas mulia jauh di pelosok negeri ini. Terlalu murah nyawa para pelayan masyarakat ini dibandingkan ulah iseng. Sekali lagi, keterlalun…!! (Sumber Foto: waspada.co.id)

Seberapa hak dan juga kewajiban seorang dokter ? dan seberapa besar pulakah hak dan kewajiban seorang pasien ?

Kita bisa membaca UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Dan jika sebagai pasien merasa dirugikan oleh pelayanan dokter atau rumah sakit, kemana kita mesti mengadu ?
Kita bisa mengadu ke MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia) di 021-72800.920 atau faks pengaduan kita dengan data-data pendukungnya ke 021.72800.743, websitenya juga ada loh di http://www.inamc.or.id

(lihat selengkapnya)