kesehatan



Alvaro Uribe (Foto: AFP)

Sumber : detik.com

Jakarta – Presiden Kolombia Alvaro Uribe terserang virus flu A H1N1 atau flu babi. Namun, kondisinya dilaporkan makin membaik.

Uribe mulai terkena gejala flu pada Sabtu 29 Agustus setelah kembali dari pertemuan regional di Argentina. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dia dikonfirmasi positif terserang virus A H1N1.

“Presiden akan melanjutkan bekerja, dan dia akan dikarantina untuk beberapa saat sebagai langkah penyembuhan,” kata Juru Bicara Kepresidenan Kolombia, Cesar Velasquez seperti ditulis AFP, Senin (31/8/2009).

Velasquez menambahkan, pemerintah Kolombia berpesan kepada para pemimpin negara lain yang mengikuti pertemuan di Argentina untuk memeriksa jika ada yang merasa kurang sehat.

“Semua orang dan pemimpin pemerintahan yang pernah berhubungan dengan Presiden sedang diberi tahu,” terang Velasquez.

Di Kolombia sendiri sebanyak 34 orang meninggal akibat flu babi. Total ada 621 warga negara Kolombia yang terinfeksi virus flu mematikan tersebut. (irw/nrl)

Untuk membantu penanganan kejadian luar biasa (KLB) Diare di Kec. Cisarua, Caringin dan Cigudeg, Kab. Bogor, Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan mengirimkan tim ( Sub Dit Diare, Sub Dit Surveilans dan Penyehatan Lingkungan) ke lokasi terjadinya KLB dengan membawa serta bantuan logistik dan obat-obatan yang dibutuhkan. Tim akan berangkat hari Sabtu, tanggal 29 Agustus 2009.

Sampai dengan tanggal 27 Agustus 2009, berdasarkan pemantauan yang dilakukan Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi Ditjen P2PL Depkes terjadi kejadian luar biasa (KLB) Diare di Kec. Cisarua (154 orang), Kec. Caringin (41 orang) dan Kec. Cigudeg (147 orang) dengan jumlah kasus 342 orang. Para penderita telah memperoleh pelayanan pengobatan masing-masing rawat inap di RS. M Gunawan Parto Widigdo Cisarua, rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas Cisarua serta rawat jalan di Puskesmas Cibulan, kata Drg. Tri Wahyu Harini, MM, Mkes, Kepala Dinas Kesehatan Kab. Bogor.

Menurut Tri Wahyu, untuk mempercepat pengobatan para penderita Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor juga mendirikan Posko Penanggulangan Diare di Puskesmas Cisarua, droping obat-obatan dan logistik, pelacakan penderita baru, kaporisasi sumber air bersih, koordinasi dengan RS. M Gunawan Parto Widigdo Cisarua, penyuluhan tentang perilaku hidup bersih (PHBS) mengenai pencegahan dan penanganan penyakit diare serta monitoring perkembangan kasus.

Sumber : depkes.go.id

Tim medis Rumah Sakit Umum Persahabatan yang dipimpin dr. Julli N Kasie Sp.A berhasil melakukan operasi Hernia Diafragmatika tipe Morgagni’s terhadap Lulu Sekar Rahayu (4 bulan) anak pasangan suami istri Ny. Yanti (28 th) dan Tn. Juwatin (28 th) pada tanggal 13 Agustus di Jakarta.

Hal itu disampaikan dr. Clemen Manyahori Sp.Paru, Direktur Pelayanan Medik Rumah Sakit Umum Persahabatan pada jumpa pers tanggal 21 Agustus 2009 di RS Persahabatan.
Menurut dr. Clemen, dalam menjalankan tugasnya dr. Julli N Kasie, Sp.A, dibantu dr. Agung Wibawanto, Sp.BKTV, dr. M. Arman Sp. BKTV, dr. Jalil, Sp.An, dr. Renis Sp.Rad dan dr. Emma Nurhema Sp.A,.

Kelainan kongenital Hernia Diafragmatika Morgagni’s adalah kelainan bawaan pada organ diafragma, yaitu adanya lubang pada diafragma yang mengakibatkan isi rongga perut seperti lambung, usus dan hati masuk (terhisap) ke dalam rongga dada sebelah kiri sepanjang 6 cm.

Kasus ini pertama kali terjadi di RS Persahabatan dan jarang terjadi di Indonesia. Angka kesakitannya 1 per 100.000 kelahiran dengan total kasus berkisar (3 – 4 %), ungkap dr. Agung.

Ditambahkan, tim dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi meskipun berat badan bayi dibawah normal akibat dari asupan makanan yang rendah karena lambung tidak dapat menampung makanan dalam jumlah sewajarnya. Jika operasi tidak segera dilakukan dikhawatirkan akan semakin memperburuk kondisi dari si bayi, tegas dr. Agung.

Ketika lahir pada 29 Maret 2009, Lulu ditolong bidan berada dalam kondisi normal dengan berat badan 3 kg dan panjang badan 50 cm. Pada 24 Juli 2009 pukul 12.30, ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kurang baik, disertai batuk berulang, sesak napas, napas cepat, wajah membiru dan status gizi buruk (BB 3,8 kg/58 cm), ungkap Ketua tim medis RS Persahabatan.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan gambaran infeksi pada kedua paru-paru dan didapati adanya gambaran usus dan isi perut yang berada di dalam rongga dada. Hasil laboratorium darah menunjukkan adanya gambaran infeksi serius sehingga didiagnosis sebagai gangguan saluran pernapasan yang berat yaitu pneumonia, adanya hernia diafragmatika dan kegagalan pertumbuhan. Selama 19 hari sesudah kedatangan ke rumah sakit, dilakukan upaya penanganan keadaan umum pasien yang kemudian dilanjutkan dengan operasi untuk menurunkan isi rongga perut ke kembali ke tempat yang seharusnya, kata dr. Julli.

Pasca operasi dilakukan perawatan intensif terhadap bayi Lulu, diantaranya yaitu melakukan pencegahan infeksi, memberikan terapi sesuai program, memberikan PASI dan ASI, dan mengganti balutan luka operasi sesuai protab yang berlaku.

Sumber : Depkes.go.id

Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (BPPSDM) Depkes dr. Bambang Giatno, MPH mengatakan salah satu arah pembangunan kesehatan adalah meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, dengan sasaran: 1.Menurunnya angka kematian bayi, 2.Menurunnya angka kematian ibu, 3.Menurunnya angka prevalensi gizi kurang pada anak Balita serta 4.Meningkatnya umur harapan hidup. Untuk meningkatkan akses tersebut, tenaga kesehatan khususnya bidan merupakan salah satu faktor penentu dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan.

Hal tersebut disampaikan saat mewisuda 37 bidan di aula Badan PPSDM Kesehatan Jakarta, Jum’at 21 Agustus 2009. Wisuda ini merupakan tindak lanjut kemitraan Provinsi Kalimantan Barat dengan Poltekkes Depkes Jakarta III yang dipercaya untuk mendidik 40 orang putra daerah Kabupaten Ketapang, dimana 37 orang diantaranya dinyatakan lulus. Pada acara wisuda ini terdapat 3 orang yang menjadi lulusan terbaik yaitu; 1.Elly Oktaviani, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.50, 2.Sannoriyanti Ola, IPK 3.41 dan 3.Windya Astuti, IPK 3.29.
Dalam sambutannya Ka. Badan PPSDM juga mengucapkan selamat kepada para wisudawati atas keberhasilan mereka dalam menyelesaikan pendidikan dan juga kepada orangtua/keluarga yang telah mendukung mereka.

Pada kesempatan itu diserahkan juga SK Menteri Kesehatan tentang pengangkatan bidan sebagai PTT untuk ditempatkan di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Dengan demikian, para wisudawati yang baru dilantik dapat langsung dibuatkan SK Bidan PTT dan ditempatkan di lokasi yang memerlukan serta bisa mulai bekerja sejak tanggal 1 September 2009. Para wisudawati tersebut diharapkan dapat didayagunakan oleh Pemkab Ketapang, sesuai dengan tugas dan kewenangannya sebagai tenaga bidan.

Hadir pada acara ini Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Pusdiknakes) Depkes, dr. Setiawan Soeparan, MPH, Kepala Biro Kepegawaian Depkes, dr. S.R. Mustikowati, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Subuh, Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat, Drs. H. Bachtiar, serta orangtua/keluarga dari para wisudawati.

Posted from : depkes.go.id

Hari ini ( 25/o08/09 ) Badan Li.tbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 28 orang, 1 orang diantaranya meninggal dunia. Ia adalah seorang anak dari Jawa Timur meninggal dengan faktor risiko pneumonia dan hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 1.033 orang, 6 orang diantaranya meninggal tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra. Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra (

Pelayanan kesehatan selama ini selalu menjadi momok bagi masyarakat, terutama masyarakat miskin. Keluhan ini sering muncul di berbagai media, terutama menyangkut akses yang tidak mudah, biaya yang mahal, pelayanan yang buruk, dll. Padahal pelayanan yang baik dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Bahkan dalam sebuah artikel yang pernah dimuat di Media Indonesia (20/10/2004) menganalisis bahwa keuntungan ekonomis bisa sampai 600 persen dari peningkatan pelayanan kesehatan. Keuntungan ekonomis ini diukur dengan peningkatan produktivitas penduduk, berkurangnya hari sakit, dan tercegahnya kematian dini.

Kebijakan pemerintah melalui Departemen Kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan harus kita baca dalam kerangka investasi jangka panjang. Sebagaimana diketahui Departemen Kesehatan telah menetapkan visi “Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat dan misi “Membuat Rakyat Sehat”. Untuk mencapai itu dilaksanakan dengan empat strategi utama yaitu: menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, meningkatkan system surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayaan kesehatan.

Masih banyak penjabaran mengenai visi dan misi ini. Yang menjadi titik tekan dalam tulisan singkat ini adalah, bahwa kemajuan bangsa dapat dimulai dari tingkat kesehatan masyarakat. Semakin sehat masyarakat, maka semakin mudah untuk mencapai kemajuan bangsa. Pepatah mengatakan di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Implikasi kesehatan dapat menyebar kemana-mana, mulai dari mentalitas yang sehat, badan yang sehat, sehingga produktivitas masyarakat menjadi meningkat.

Marilah jaga kesehatan kita sehingga kita menjadi masyarakat sehat yang mandiri. Kita juga harus selalu kontrol agar kebijakan pemerintah terhadap peningkatan pelayanan kesehatan tetap pro rakyat miskin. Yesss!!!

Tim medis Rumah Sakit Umum Persahabatan yang dipimpin dr. Julli N Kasie Sp.A berhasil melakukan operasi Hernia Diafragmatika tipe Morgagni’s terhadap Lulu Sekar Rahayu (4 bulan) anak pasangan suami istri Ny. Yanti (28 th) dan Tn. Juwatin (28 th) pada tanggal 13 Agustus di Jakarta.

Hal itu disampaikan dr. Clemen Manyahori Sp.Paru, Direktur Pelayanan Medik Rumah Sakit Umum Persahabatan pada jumpa pers tanggal 21 Agustus 2009 di RS Persahabatan.
Menurut dr. Clemen, dalam menjalankan tugasnya dr. Julli N Kasie, Sp.A, dibantu dr. Agung Wibawanto, Sp.BKTV, dr. M. Arman Sp. BKTV, dr. Jalil, Sp.An, dr. Renis Sp.Rad dan dr. Emma Nurhema Sp.A,.

Kelainan kongenital Hernia Diafragmatika Morgagni’s adalah kelainan bawaan pada organ diafragma, yaitu adanya lubang pada diafragma yang mengakibatkan isi rongga perut seperti lambung, usus dan hati masuk (terhisap) ke dalam rongga dada sebelah kiri sepanjang 6 cm.

Kasus ini pertama kali terjadi di RS Persahabatan dan jarang terjadi di Indonesia. Angka kesakitannya 1 per 100.000 kelahiran dengan total kasus berkisar (3 – 4 %), ungkap dr. Agung.

Ditambahkan, tim dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi meskipun berat badan bayi dibawah normal akibat dari asupan makanan yang rendah karena lambung tidak dapat menampung makanan dalam jumlah sewajarnya. Jika operasi tidak segera dilakukan dikhawatirkan akan semakin memperburuk kondisi dari si bayi, tegas dr. Agung.

Ketika lahir pada 29 Maret 2009, Lulu ditolong bidan berada dalam kondisi normal dengan berat badan 3 kg dan panjang badan 50 cm. Pada 24 Juli 2009 pukul 12.30, ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kurang baik, disertai batuk berulang, sesak napas, napas cepat, wajah membiru dan status gizi buruk (BB 3,8 kg/58 cm), ungkap Ketua tim medis RS Persahabatan.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan gambaran infeksi pada kedua paru-paru dan didapati adanya gambaran usus dan isi perut yang berada di dalam rongga dada. Hasil laboratorium darah menunjukkan adanya gambaran infeksi serius sehingga didiagnosis sebagai gangguan saluran pernapasan yang berat yaitu pneumonia, adanya hernia diafragmatika dan kegagalan pertumbuhan. Selama 19 hari sesudah kedatangan ke rumah sakit, dilakukan upaya penanganan keadaan umum pasien yang kemudian dilanjutkan dengan operasi untuk menurunkan isi rongga perut ke kembali ke tempat yang seharusnya, kata dr. Julli.

Pasca operasi dilakukan perawatan intensif terhadap bayi Lulu, diantaranya yaitu melakukan pencegahan infeksi, memberikan terapi sesuai program, memberikan PASI dan ASI, dan mengganti balutan luka operasi sesuai protab yang berlaku.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id, info@puskom.depkes. go.id, kontak@puskom.depkes.go.id.

Sumber: Depkes

Laman Berikutnya »