limbah


JAKARTA, KOMPAS.com — Proyek penelitian dan pengelolaan limbah kotoran sapi sebagai bahan baku pembuatan bata untuk bahan bangunan mendapuk enam mahasiswa Prasetiya Mulya Business School menyabet juara pertama kompetisi business plan tingkat dunia bertajuk “Global Social Venture Competition (GSVC) 2009” yang berlangsung 23-25 April 2009 di University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
Ditemui Rabu (13/5) di kampusnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, anggota tim tersebut menjelaskan bahwa kemenangan mereka diperoleh karena sangat sesuai dengan syarat utama kompetisi GSVC 2009. Syarat itu adalah menyiapkan hasil riset dan penelitian berbentuk perencanaan bisnis (business plan) yang harus berorientasi pada keuntungan dan berdampak sosial positif bagi masyarakat luas dan mampu memaparkannya secara kompetitif di depan para juri internasional.

“Sebagai bahan bangunan pengelolaan limbah kotoran sapi tidak hanya memecahkan masalah polusi kotoran, melainkan juga mengurangi penggunaan bahan dari tanah liat yang tidak bisa dibarukan,” ujar Yusuf Aria Putera, anggota tim.
“Karena merupakan sumber dari alam, proyek ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, jadi sesuai dengan semangat global warming,” ujar Yusuf, mahasiswa program Magister Manajemen tahun 2008/2009.

GSVC merupakan kompetisi perencanaan bisnis tingkat dunia yang diselenggarakan setiap tahun sejak 1999. Tergabung dalam tim bernama ‘EcoFaeBrick’, Yusuf dan kelima rekan mahasiswa Prasetiya Mulya itu mengalahkan sembilan finalis dari sekolah bisnis dan universitas-universitas peringkat dunia, seperti London Business School, ESSEC Business School Perancis, Columbia Business School, George Washington University School of Business, Tuck School of Business Dartmouth, Indian School of Business, Sasin Graduate Institute of Business Administration, SP Jain Institute of Management and Research, serta Haas School of Business.

“Ini tentu sangat berarti bukan hanya buat kami di Prasetiya, melainkan juga buat Indonesia karena, setelah sepuluh tahun kompetisi ini digelar, baru tahun inilah ada tim sekolah bisnis dari luar AS berhasil menjadi juara pertama,” ujar Deddi Tedjakumara, anggota tim penasehat dari jajaran sivitas akademika Prasetiya Mulya.

Masalah Menjadi Manfaat
Bekerja sama dengan organisasi non-formal bernama ‘Faerumnesia’ pimpinan Syammahfuz Chazali, tim EcoFaeBrick memulai proyek penelitian bisnis ini pada Desember 2008 di daerah Godean dan Sayegan, Yogyakarta, yang memiliki komunitas peternak sapi.

“Teknologinya mereka yang punya dan secara teknis mereka yang menguasai, kami tinggal membuat perencanaan bisnisnya hingga bernilai ekonomi, sosial, serta lingkungan,” tukas Erma Melina Sarahwati, anggota tim.
Erma mengakui, selama ini teknologi pengelolaan limbah kotoran sapi memang sudah ada, yaitu sebagai pupuk. “Hanya saja, mengolahnya sebagai bahan baku membuat bata merupakan keunggulan terbaru dari upaya masyarakat untuk memanfaatkan energi terbarukan yang memberi value cukup banyak,” tambah Erma, yang berkaca pada pengalaman orangtuanya yang memiliki ternak sapi.

Selain itu, alasan memilih limbah sapi pun merupakan tantangan yang cukup besar ketimbang kambing atau unggas. “Permasalahan yang timbul dilihat dari volume limbahnya tentu pilihan pengelolaan ini sangat menarik karena volume limbah sapi per ekor mampu mencapai 20 kilogram per hari,” kata Erma.

Meningkahi pendapat Erma, Marselina pun memberikan komentarnya. “Penciptaan value diawali dari masalah sehingga kami berpikir bagaimana masalah dari kotoran ini harus bisa menjadi manfaat,” ujar Marselina.

Marselina menuturkan, selain mengurangi dampak polusi, penggantian bahan bakar dari kayu menjadi biogas metana hasil kotoran sapi dalam proses pembakaran bata membuat biaya produksi menjadi lebih rendah.

Selain itu, dengan menggunakan model bisnis yang melibatkan pengembang perumahan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal melalui perserikatan koperasi lokal, tim EcoFaeBrick membangun permintaan pasar yang dapat dipertahankan untuk jangka panjang dan memberikan jaminan berupa keuntungan yang menarik bagi para investor. “Jadi impact sosial dan ekonominya terhadap masyarakat juga kena dan itulah yang kami rencanakan,” tukas Marselina.

Untuk itulah, tidak mengherankan jika beberapa utusan negara dari Meksiko, Argentina, dan India yang merupakan negara produsen besar sapi di dunia tertarik dengan business plan buatan tim EcoFaeBrick ini. “Bahkan, untuk proyek ini sedang ada penjajakan dari UNDP,” tambah Deddi Tedjakumara. LTF

JAKARTA, KOMPAS.com — Proyek penelitian dan pengelolaan limbah kotoran sapi sebagai bahan baku pembuatan bata untuk bahan bangunan mendapuk enam mahasiswa Prasetiya Mulya Business School menyabet juara pertama kompetisi business plan tingkat dunia bertajuk “Global Social Venture Competition (GSVC) 2009” yang berlangsung 23-25 April 2009 di University of California, Berkeley, Amerika Serikat.
Ditemui Rabu (13/5) di kampusnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, anggota tim tersebut menjelaskan bahwa kemenangan mereka diperoleh karena sangat sesuai dengan syarat utama kompetisi GSVC 2009. Syarat itu adalah menyiapkan hasil riset dan penelitian berbentuk perencanaan bisnis (business plan) yang harus berorientasi pada keuntungan dan berdampak sosial positif bagi masyarakat luas dan mampu memaparkannya secara kompetitif di depan para juri internasional.

“Sebagai bahan bangunan pengelolaan limbah kotoran sapi tidak hanya memecahkan masalah polusi kotoran, melainkan juga mengurangi penggunaan bahan dari tanah liat yang tidak bisa dibarukan,” ujar Yusuf Aria Putera, anggota tim.
“Karena merupakan sumber dari alam, proyek ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan, jadi sesuai dengan semangat global warming,” ujar Yusuf, mahasiswa program Magister Manajemen tahun 2008/2009.

GSVC merupakan kompetisi perencanaan bisnis tingkat dunia yang diselenggarakan setiap tahun sejak 1999. Tergabung dalam tim bernama ‘EcoFaeBrick’, Yusuf dan kelima rekan mahasiswa Prasetiya Mulya itu mengalahkan sembilan finalis dari sekolah bisnis dan universitas-universitas peringkat dunia, seperti London Business School, ESSEC Business School Perancis, Columbia Business School, George Washington University School of Business, Tuck School of Business Dartmouth, Indian School of Business, Sasin Graduate Institute of Business Administration, SP Jain Institute of Management and Research, serta Haas School of Business.

“Ini tentu sangat berarti bukan hanya buat kami di Prasetiya, melainkan juga buat Indonesia karena, setelah sepuluh tahun kompetisi ini digelar, baru tahun inilah ada tim sekolah bisnis dari luar AS berhasil menjadi juara pertama,” ujar Deddi Tedjakumara, anggota tim penasehat dari jajaran sivitas akademika Prasetiya Mulya.

Masalah Menjadi Manfaat
Bekerja sama dengan organisasi non-formal bernama ‘Faerumnesia’ pimpinan Syammahfuz Chazali, tim EcoFaeBrick memulai proyek penelitian bisnis ini pada Desember 2008 di daerah Godean dan Sayegan, Yogyakarta, yang memiliki komunitas peternak sapi.

“Teknologinya mereka yang punya dan secara teknis mereka yang menguasai, kami tinggal membuat perencanaan bisnisnya hingga bernilai ekonomi, sosial, serta lingkungan,” tukas Erma Melina Sarahwati, anggota tim.
Erma mengakui, selama ini teknologi pengelolaan limbah kotoran sapi memang sudah ada, yaitu sebagai pupuk. “Hanya saja, mengolahnya sebagai bahan baku membuat bata merupakan keunggulan terbaru dari upaya masyarakat untuk memanfaatkan energi terbarukan yang memberi value cukup banyak,” tambah Erma, yang berkaca pada pengalaman orangtuanya yang memiliki ternak sapi.

Selain itu, alasan memilih limbah sapi pun merupakan tantangan yang cukup besar ketimbang kambing atau unggas. “Permasalahan yang timbul dilihat dari volume limbahnya tentu pilihan pengelolaan ini sangat menarik karena volume limbah sapi per ekor mampu mencapai 20 kilogram per hari,” kata Erma.

Meningkahi pendapat Erma, Marselina pun memberikan komentarnya. “Penciptaan value diawali dari masalah sehingga kami berpikir bagaimana masalah dari kotoran ini harus bisa menjadi manfaat,” ujar Marselina.

Marselina menuturkan, selain mengurangi dampak polusi, penggantian bahan bakar dari kayu menjadi biogas metana hasil kotoran sapi dalam proses pembakaran bata membuat biaya produksi menjadi lebih rendah.

Selain itu, dengan menggunakan model bisnis yang melibatkan pengembang perumahan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal melalui perserikatan koperasi lokal, tim EcoFaeBrick membangun permintaan pasar yang dapat dipertahankan untuk jangka panjang dan memberikan jaminan berupa keuntungan yang menarik bagi para investor. “Jadi impact sosial dan ekonominya terhadap masyarakat juga kena dan itulah yang kami rencanakan,” tukas Marselina.

Untuk itulah, tidak mengherankan jika beberapa utusan negara dari Meksiko, Argentina, dan India yang merupakan negara produsen besar sapi di dunia tertarik dengan business plan buatan tim EcoFaeBrick ini. “Bahkan, untuk proyek ini sedang ada penjajakan dari UNDP,” tambah Deddi Tedjakumara. LTF