”Ada 2 orang sinting di dunia ini. Pertama, Ahmadinejad. Dan kedua, Siti Fadilah Supari.” Itulah komentar sebuah blog di Afrika atas launching buku Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K) yang berjudul ”Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung”.

Dilaunching pada Minggu, 6 Januari 2008 di Jakarta, buku ini membuat banyak pihak kebakaran jenggot. Betapa tidak? Dalam bukunya ini, Menkes RI membuka kedok World Health Organization (WHO) yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang ternyata banyak merugikan negara miskin dan berkembang asal virus tersebut.

Menkes RI menguak skandal tersebut ketika di Indonesia ditemukan kasus pertama virus Flu Burung pada pertengahan 2005. Untuk penentuan diagnostik, Indonesia diwajibkan mengirimkan sampel virus ke WHO Collaborating Center (CC) di Hongkong. Hal ini berlangsung hingga tak kurang 58 sampel virus telah dikirimkan Indonesia ke tempat ini hingga pertengahan 2006. Sampel virus ini ternyata disimpan di Los Alamos, New Mexico, di bawah Kementerian Energi Amerika. Para ilmuwan Los Alamos – yang jumlahnya sedikit – inilah yang menguasai sampel itu. Ilmuwan luar tidak punya akses. Tempat inilah yang dalam sejarah pernah menjadi tempat dibuatnya bom atom Hirosima tahun 1945! Tampaknya inilah tempat riset dan pembuatan senjata kimia Amerika (hal. 17).

Sejak itulah, Menkes RI memutuskan memeriksakan spesimen Flu Burung H5N1 ke laboratorium dalam negeri yakni Lab Balitbangkes dan Lab Eijkman. Hasilnya pun toh tak jauh berbeda. Spesimen itu kemudian dikirimkan pula ke Gen Bank yang public domain sehingga ilmuwan dari manapun dapat mengaksesnya; hal mana tidak bisa dilakukan ketika sampel itu masuk ke WHO CC.

Untuk sikap Menkes RI yang berani menentang hegemoni negara maju itu, ia mendapatkan banyak tekanan dan intrik dari berbagai pihak. Bahkan bukunya ini sempat diisukan untuk ditarik dari peredaran atas perintah Presiden SBY karena banyaknya tekanan tersebut. Menjawab isu ini, Menkes RI berkomentar, ”Saya tidak akan menarik dan merevisi buku itu. Saya justru akan mencetaknya lebih banyak lagi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ini adalah pendidikan kebangsaan bagi rakyat saya bahwa negara Indonesia berdaulat. Ini juga pendidikan tentang kemandirian bagi bangsa-bangsa negara-negara berkembang,” demikian Siti Fadilah Supari kepada pers, Kamis (21/1) malam di Jakarta.

Atas dobrakannya terhadap WHO inilah, Los Alamos akhirnya ditutup dan dipindah ke Pentagon, di bawah biro pembuat senjata biologis!

Pada Sidang Majelis Kesehatan Dunia (WHA) di Jenewa Swiss, Menkes RI mengusulkan untuk mengubah sistem virus sharing yang sangat merugikan itu dengan sistem yang lebih transparan, adil, dan setara. Pada akhir sidang yang alot, usulan tersebut akhirnya disepakati dan disahkan menjadi Resolusi WHA yang harus dipatuhi semua negara anggota. Hanya sayangnya, prestasi Indonesia di kancah organisasi dunia itu kurang mendapatkan apresiasi di dalam negeri sendiri.

Atas sepak terjangnya ini, maka The Economist bahkan menulis, ”Siti Fadilah Supari memulai suatu revolusi yang mungkin menyelamatkan dunia dari dampak buruk penyakit pandemi. Hal ini karena Menteri Kesehatan Indonesia telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus Flu Burung: transparansi.”

Siti Fadilah Supari adalah Menteri Kesehatan RI yang diangkat oleh Presiden SBY di Kabinet Indonesia Bersatu. Sebagai seorang yang telah mendapatkan banyak penghargaan sebagai peneliti terbaik dalam banyak kesempatan, baik nasional maupun regional, Siti Fadilah Supari sangat memahami lika-liku penanganan virus ini. Dengan gaya penulisannya yang blak-blakan, membaca buku memoar ini seperti layaknya membaca pribadi Siti Fadilah Supari. Apalagi memang buku ini berangkat dari catatan harian Menkes RI yang masih energik itu.

Di tengah inferioritas negara ini di hadapan negara-negara maju dan pemilik modal raksasa dunia, keberanian Menkes RI mendobrak hegemoni mereka patut diacungi jempol dan layak diikuti oleh seluruh komponen bangsa ini. Apalagi jika informasi mengenai harga sampel virus ini benar: bahwa harga virus Flu Burung asal Indonesia sekitar Rp 90 triliun per jenis virus. Jika seluruh 58 jenis virus asal Indonesia dijual, maka uang yang dikeruk dari penjualan virus itu tak kurang dari Rp 5.220 triliun. Indonesia tidak mendapatkan apa-apa dari transaksi itu. Bahkan vaksin Flu Burung yang dibuat dari sampel virus itu justru lantas dijual ke negara ini dengan harga yang sangat tinggi. Tentu saja hal ini merupakan sebuah dagelan para kapitalis tingkat tinggi!

Apresiasi terhadap sepak terjang Siti Fadilah Supari kemudian tak heran datang dari berbagai pihak. Tetapi, ketika disinggung tentang perjuangannya itu, Menkes RI menjawab, dengan rendah hati, ”Tangan Tuhan yang meruntuhkan ketidakadilan itu…”

Judul: Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
Penulis: Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K)
Penerbit: PT. Sulaksana Watinsa Indonesia
Edisi Pertama: 2007
Tebal: xii +204 Halaman

Sumber: Bahtiar HS dan SFS Fans Club