siti fadilah supari


JAKARTA | SURYA Online – Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengatakan, penggunaan obat antivirus Oseltamivir (Tamiflu) kini dibatasi untuk pasien flu A (H1N1) yang mengalami gangguan kesehatan berat saja.

“Yang tidak parah dikasih obat anti virus influenza biasa saja,” katanya usai menerima pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di kediamannya, Jalan Denpasar, Jakarta Selatan, Senin (24/8).

Ia menambahkan, hal itu sudah dilakukan di negara-negara yang lebih dulu terkena dampak pandemi global influenza A (H1N1) karena dampak penyakit itu terhadap kesehatan dianggap tidak berat.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) secara global tingkat kematian akibat flu A (H1N1) relatuf rendah yakni sekitar 0,4 persen.
Orang yang terserang penyakit flu baru itu, masih menurut WHO, rata-rata juga bisa sembuh dalam waktu sepekan bahkan tanpa pengobatan khusus di rumah sakit sekalipun.

Penyakit influenza A (H1N1) hingga kini telah menyerang 1.005 orang di 24 provinsi di Indonesia dan mengakibatkan lima orang diantaranya meninggal dunia.

Menkes juga mengatakan, pemerintah terus berupaya mengendalikan penularan penyakit influenza A (H1N1) dan mengantisipasi kemungkinan munculnya gelombang kedua penyebaran penyakit.
“Kita sudah menyiapkan strategi sejak kasus H5N1 dan sampai sekarang masih dijalankan,” jelasnya serta menambahkan pemerintah akan tetap memasang alat pemindai suhu tubuh (thermal scanner) di pintu kedatangan pendatang dari negara lain untuk mencegah masuknya penyakit.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Adhitama menjelaskan, pemerintah juga menyiapkan rumah sakit rujukan dan obat-obatan serta mengintensifkan pemantauan penyakit serupa influenza.
Pemerintah, lanjut dia, juga melakukan pemantauan penyakit serupa influenza berbasis masyarakat serta pemantauan infeksi saluran pernafasan akut di Puskesmas dan rumah sakit. (ant)

JAKARTA : Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari mengucapkan terima kasih kepada RCTI atas nama pemerintah, akan kepedulian RCTI memberikan bantuan pengobatan operasi gratis kepada para penderita hernia, bibir sumbing, dan katarak.

Ucapan terima kasih disampaikan langsung oleh Menkes kepada Group President & CEO Global Mediacom Hary Tanoesoedibjo dan istrinya Liliana Tanoesoedibjo dalam acara penyerahan bantuan di lapangan parkir studio IV RCTI di Jalan Raya Perjuangan, Jakarta, Rabu 19 Agustus 2009 di Jakarta

“Pada kesempatan yang baik ini, tentu saja atas nama pemerintah saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepedulian RCTI membantu program kesehatan pemerintah,” ujar Menkes.
Siti Fadhilah menyebut acara yang digelar atas kerjasama RCTI dengan Royal Progress International Hospital dan RS Mata Aini itu sebagai kegiatan yang mulia. “Karena membantu orang-orang yang tidak beruntung. Dalam hal ini RCTI yang mendukung dan mengulurkan tangan, melalui ibu Liliana Sudibyo,” ujarnya.

“Saya tidak tahu bagaimana pimpinan daerah dalam menentukan orang miskin yang seharusnya memperoleh Jamkesmas, tetapi tidak mendapatkanya”, ujar Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) ketika meresmikan program Sosial Kemasyarakatan Jalinan Kasih RCTI di halaman RCTI Kebon Jeruk, Jakarta tanggal 19 Agustus 2009.

Menkes menyatakan terkejut mendengar laporan bahwa selama 8 kali Program Jalinan Kasih RCTI dilaksanakan telah melakukan operasi sebanyak 1.860 orang dengan bermacam-macam kelainan. Barangkali diantara pasien yang memerlukan operasi ini juga peserta Jamkesmas. “ Mereka ini tergolong miskin tidak, tetapi kaya juga tidak “ ujar Menkes. Menkes berharap selain RCTI, perusahaan swasta lainnya juga mempunyai program serupa untuk menolong masyarakat kita yang kurang beruntung.
Acara penyerahan bantuan kepada 174 penderita hernia, bibir sumbing, dan katarak, dari kalangan kurang mampu berlangsung sekira pukul 14.30 WIB hingga pukul 15.30 WIB. Hadir dalam acara ini asisten bidang kesehatan masyarakat wali kota Jakarta Barat, Firdaus Mansyur, serta para penerima bantuan.

Group President & CEO Global Mediacom Hary Tanoesoedibjo dalam sambutannya mengatakan, program jalinan kasih RCTI merupakan wujud kepedulian terhadap para pasien dari kalangan kurang mampu. Kegiatan semacam ini akan digelar secara berkala di masa mendatang.

“RCTI melalui program jalinan kasih terus meningkatkan program kemasyarakatan dalam bidang kesehatan, yaitu dengan terus berkomitmen menyalurkan dana sumbangan masyarakat dan pemirsa RCTI kepada para pasien yang membutuhkan,” pungkasnya.(ful)

Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menerima penghargaan sebagai Prada Prameswari dalam acara penganugerahan Prada Prameswari Indonesia di Hotel Four Seasons Jakarta, Jum’at (14/8/2009).

Penganugerahan Prada Prameswari ini diselenggarakan Mustika Ratu Group sebagai wujud kepedulian Mustika Ratu selaku perusahaan jamu dan kosmetika nasional yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi budaya bangsa Indonesia. Prada Prameswari sendiri bisa diartikan sebagai “Permaisuri Emas”, namun yang dimaksudkan disini bukan permaisuri sebagai istri raja. Prada Prameswari dicitrakan sebagai sosok perempuan Indonesia yang cantik, anggun, bijaksana, cerdas, dicintai serta dikagumi keluarga maupun masyarakat.

Menkes mendapatkan penghargaan atas dedikasi, kerja keras dan keberaniannya dalam bekerja sebagai pribadi, ibu rumah tangga dan juga pejabat negara. Prestasi Siti yang banyak dikagumi terutama dalam kiprahnya sebagai Menteri Kesehatan yang banyak menghasilkan program-program kesehatan yang pro rakyat, keberaniannya dalam memerintahkan penutupan NAMRU di Indonesia serta menggugat WHO dalam virus sharing Flu Burung.

Dalam sambutannya Siti Fadilah mengucapkan syukur Alhamdulillah dan terima kasih karena dipilih oleh masyarakat sebagai salah satu perempuan yang dianggap layak disebut Prada Prameswari. Siti mengaku merasa kaget bisa terpilih, dan ia berharap semoga penghargaan ini bisa menjadi cambuk baginya agar bisa menjadi perempuan yang mandiri, inovatif dan produktif untuk membangun bangsa masa di masa depan.

Berdasarkan polling yang dilakukan melalui majalah Femina dan tabloid Nyata selama Januari – Maret 2009, terpilih 8 orang perempuan Indonesia yang dianggap masyarakat layak disebut sebagai Prada Prameswari. Mereka adalah Ani Bambang Yudhoyono – Ibu Negara RI, Siti Fadilah Supari – Menteri Kesehatan RI, Hartati Murdaya – Pengusaha Wanita, Kristina Akbar Tanjung – Penggiat Budaya, Widyawati Sophiaan – Aktris Film, Titiek Puspa – Artis & Penyanyi, Artika Sari Devi – Aktris Film & Presenter, serta Nurul Arifin – Artis & Politisi Wanita.

Tanggal 06 Agustus 2009 yang lalu, Ibu Hj. Ani Soesilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka Konser Peduli Anak Indonesia Berkebutuhan Khusus di Hotel Borobudur Jakarta. Konser diselenggarakan atas kerjasama Departemen Kesehatan dengan Program Indonesia Sehat Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Acara dihadiri beberapa menteri, diantaranya Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K), Anggota SIKIB dan Gubernur DKI Jakarta.

Acara ini didukung berbagai perusahaan dan dimeriahkan pagelaran Musik Anak Berprestasi dari Yamaha Boys, pagelaran musik oleh Anak Intervensi Modern Kawai Indonesia, persembahan tari Saman oleh Anak Bertalenta Khusus YPAC Nasional, Permainan Angklung Anak-anak Down Syndrome serta pengisi acara utama Miss. Hee Ah Lee dari Korea.

Pada kesempatan tersebut Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) secara simbolis menyerahkan sumbangan kepada 7 Panti/Yayasan Anak-Anak Berkebutuhan Khusus yaitu : Yayasan Kesejahteraan Penyandang Cacat (YPKC) GBKP Alpha Omega, Kabanjahe, Sumatera Utara, Panti Anak Cacat Terlantar Yayasan Sayap Ibu, Bintaro Tangerang, Banten, Wisma Tuna Ganda Palsigunung Cimanggis, Bogor, Jabar, Yayasan Keluarga Kependidikan Sumberharjo, Pacitan, Jatim, Yayasan Pendidikan Melati Ceria/Panti Anak Berkebutuhan Khusus Budhi Karya-SLB Melati Ceria, Palangkaraya, Kalteng, Panti Asuhan Anak-anak Cacat Bhakti Luhur Kupang, NTT, Tfasana Foundation Rawamangun, Jakarta Timur.

Ketua Panitia Konser, dr. SK Amdani Hendarman Supanji, Sp.A (K), MSc yang juga menjabat Direktur Utama RS Anak dan Bunda Harapan Kita dalam laporannya menyatakan bahwa maksud diadakan konser adalah untuk menginspirasi masyarakat terutama orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus bahwa impian atau cita-cita mereka dapat diraih apabila memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Juga untuk mengetuk hati para dermawan untuk turut membantu pusat-pusat rehabilitasi atau yayasan yang membina anak-anak berkebutuhan khusus dalam mengembangkan kemampuan dan bakat mereka sehingga dapat hidup mandiri untuk mewujudkan putra-putri Indonesia yang berprestasi walaupun memiliki keterbatasan.

Dana yang diperoleh dari dukungan perusahaan-perusahaan tersebut kata dr. SK Amdani, akan disumbangkan kepada yayasan-yayasan yang peduli pada pembinaan anak-anak yang berkebutuhan khusus yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Diharapkan, kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus terus ditingkatkan untuk menjadikan mereka anak-anak yang berkualitas dan mandiri seperti anak-anak pada umumnya, ujar dr. SK Amdani.

Anak berkebutuhan khusus (ABK), sekarang disebut anak dengan kebutuhan pendidikan khusus (AKPK) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak yang termasuk kelompok ini adalah tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat.

Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki, AKPK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensinya. Contohnya bagi tuna netra memerlukan modifikasi teks bacaan menggunakan huruf Braille dan tuna rungu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat dan sebagainya.

Menurut data Sensus Nasional Biro Pusat Statistik tahun 2003, jumlah penyandang cacat di Indonesia sebesar 0,7% dari jumlah penduduk 211.428.572 atau sebaanyak 1.480.000 jiwa.Dari jumlah itu sebesar 21,42 % atau 317.016 anak diantaranya adalah anak cacat usia sekolah (5-18 tahun).

Tentang Hee Ah Lee, adalah seorang anak berkebutuhan khusus dari Korea yang menderita ectrodoctyly atau dikenal dengan sindrome capit lobster dan sejak lahir hanya memiliki 4 jari. Hee Ah Lee berhasil menunjukkan determinasi, pelatihan terhadap kemampuannya untuk bermain piano. Pada usia ke-23 sudah mengadakan 27 kali pertunjukan yang mendapat sambutan luar biasa di berbagai negara.

Jakarta – Saatnya Dunia Berubah. Itulah judul buku yang ditulis Menkes Siti Fadilah Supari, yang menjadi terkenal karena mengecam ketidakadilan virus sharing flu burung. Buku tersebut akan dibuat film layar lebar. “Ini adalah film layar lebar untuk festival yang juga bisa dijual,” kata penggagas film tersebut, Shohibul Faroji, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (29/5/2008). Awalnya, Shohibul tertarik dengan berita-berita di media massa soal keberadaan Laboratorium Namru-2 milik AS di Indonesia. Lalu dirinya mengirim SMS ke Menkes menanyakan hal tersebut.
“Waktu saya SMS, Bu Menkes mengatakan, soal Namru itu hak Presiden (untuk menjawab). Lalu saya katakan rencana memfilmkan bukunya, dan ternyata disambut baik,” kata pria yang juga dosen di Universitas Paramadina dan Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Jakarta ini.

Dalam waktu yang cukup singkat, Shohibul membuat script dan proposal. Lalu pada 25 Mei 2008, Menkes menerima dia di kantornya.

“Kami tengah mencari investor. Dan pendananya semua akan dari dalam negeri. Ada juga dari luar negeri yang sudah menawarkan, tapi kami tolak. Kami tidak mau menggadaikan nasionalisme. Ini adalah film rakyat pinggiran,” sambungnya.

Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung merupakan buku yang ditulis oleh Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K). Sejak terbitnya, buku ini menjadi pembicaraan di berbagai media internasional, karena buku ini dianggap membongkar konspirasi pihak barat terhadap sampel virus flu burung.

Diluncurkan pada Minggu, 6 Januari 2008 di Jakarta, buku ini membuat banyak pihak kebakaran jenggot. Dalam bukunya ini Siti Fadilah membuka kedok World Health Organization (WHO) yang telah lebih dari 50 tahun mewajibkan virus sharing yang ternyata banyak merugikan negara miskin dan berkembang asal virus tersebut.
Buku ini terbit pula dalam bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Berikut adalah sebagian kutipan dari apa yang tertulis di buku tersebut.

Namun ironisnya pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri, negara maju, negara kaya yang tidak mempunyai kasus flu burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu dijual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita. Tetapi tanpa sepengetahuan apalagi kompensasi untuk si pengirim virus, yaitu saudara kita yang ada di Vietnam.
Mengapa begini? Jiwa kedaulatan saya terusik. Seolah saya melihat ke belakang, ada bayang-bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning, karena kita hanya bisa menumbuk padi menggunakan lesung, sedangkan sang penjajah punya mesin sleyp padi yang modern. Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di Tanah Air kita seenaknya, karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolahnya. Inikah yang disebut neo-kolonialisme yang diramal oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu? Ketidak-berdayaan suatu bangsa menjadi sumber keuntungan bangsa yang lain? Demikian jugakah pengiriman virus influenza di WHO yang sudah berlangsung selama 50 tahun, dengan dalih oleh karena adanya GISN (Global Influenza Surveillance Network). Saya tidak mengerti siapa yang mendirikan GISN yang sangat berkuasa tersebut sehingga negara-negara penderita Flu Burung tampak tidak berdaya menjalani ketentuan yang digariskan oleh WHO melalui GISN dan harus patuh meskipun ada ketidak-adilan?