siti fadilah


Posted from : depkes.go.id

Hari ini ( 25/o08/09 ) Badan Li.tbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 28 orang, 1 orang diantaranya meninggal dunia. Ia adalah seorang anak dari Jawa Timur meninggal dengan faktor risiko pneumonia dan hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 1.033 orang, 6 orang diantaranya meninggal tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra. Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra (

Sumber : depkes.go.id

Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menerima bintang penghargaan dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI yang diberikan oleh Ketua Umum DPP LVRI Letjen TNI (Purn.) Rais Abin pada Senin, 24 Agustus 2009 bertempat di kediaman Menkes, Jakarta.

Bintang penghargaan ini diberikan karena Menkes berjasa secara luar biasa untuk perkembangan dan kemajuan LVRI, dalam hal ini adalah kegigihan Menkes dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa Indonesia di forum internasional yang sesuai dengan dharma LVRI. Bintang penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Surat Keputusan LVRI No. Skep-19/MBLV/IX/04/2009 tentang Penetapan Penganugerahan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia.

Siti Fadilah mengatakan bahwa ia merasa sangat tersanjung karena diberikan penghargaan oleh LVRI karena dihargai sebagai seorang pejuang walaupun ia bukan berasal dari kalangan militer. Siti memohon doa mudah-mudahan Allah SWT masih memperkenankan ia terus berjuang demi negara ini karena masih banyak tugas yang belum selesai dengan tuntas, contohnya mengenai NAMRU. Rais Abin mengatakan, Menkes juga dinilai berhasil meningkatkan efisiensi jaminan kesehatan bagi masyarakat termasuk para veteran, serta berani dalam menentang hegemoni negara maju di WHO dan juga NAMRU. Lebih lanjut Rais Abin juga mengharapkan agar Menkes menindaklanjuti SK Menkes No. 812 tahun 2007 tentang Kebijakan Perawatan Paliatif dengan secepatnya mengeluarkan petunjuk pelaksanaan (juklak) agar para pelaksana di lapangan (hospice) dapat lebih efektif dalam menjalankan tugasnya.

Sumber : depkes.go.id

Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menerima bintang penghargaan dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI yang diberikan oleh Ketua Umum DPP LVRI Letjen TNI (Purn.) Rais Abin pada Senin, 24 Agustus 2009 bertempat di kediaman Menkes, Jakarta.

Bintang penghargaan ini diberikan karena Menkes berjasa secara luar biasa untuk perkembangan dan kemajuan LVRI, dalam hal ini adalah kegigihan Menkes dalam memperjuangkan kedaulatan bangsa Indonesia di forum internasional yang sesuai dengan dharma LVRI. Bintang penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Surat Keputusan LVRI No. Skep-19/MBLV/IX/04/2009 tentang Penetapan Penganugerahan Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia.

Siti Fadilah mengatakan bahwa ia merasa sangat tersanjung karena diberikan penghargaan oleh LVRI karena dihargai sebagai seorang pejuang walaupun ia bukan berasal dari kalangan militer. Siti memohon doa mudah-mudahan Allah SWT masih memperkenankan ia terus berjuang demi negara ini karena masih banyak tugas yang belum selesai dengan tuntas, contohnya mengenai NAMRU. Rais Abin mengatakan, Menkes juga dinilai berhasil meningkatkan efisiensi jaminan kesehatan bagi masyarakat termasuk para veteran, serta berani dalam menentang hegemoni negara maju di WHO dan juga NAMRU. Lebih lanjut Rais Abin juga mengharapkan agar Menkes menindaklanjuti SK Menkes No. 812 tahun 2007 tentang Kebijakan Perawatan Paliatif dengan secepatnya mengeluarkan petunjuk pelaksanaan (juklak) agar para pelaksana di lapangan (hospice) dapat lebih efektif dalam menjalankan tugasnya.

Posted from : depkes.go.id

Hari ini ( 25/o08/09 ) Badan Li.tbangkes Depkes melaporkan hasil konfirmasi laboratorium positif influenza A H1N1 sebanyak 28 orang, 1 orang diantaranya meninggal dunia. Ia adalah seorang anak dari Jawa Timur meninggal dengan faktor risiko pneumonia dan hasil laboratorium menunjukkan H1N1 positif. Dengan demikian secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 berjumlah 1.033 orang, 6 orang diantaranya meninggal tersebar di 24 provinsi kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), MARS, Dirjen P2PL Depkes.

Prof. Tjandra menjelaskan, penyakit influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat namun dapat dicegah.

Cara yang efektif untuk mencegah yaitu menjaga kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang, beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama 5 hari. Apabila dalam 2 hari flu tidak juga membaik segera ke dokter, ujar Prof. Tjandra. Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).

Disamping itu juga dilakukan community surveilans yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas, sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit, tambah Prof. Tjandra.

Posted from : depkes.go.id

Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menerima penghargaan sebagai Prada Prameswari dalam acara penganugerahan Prada Prameswari Indonesia di Hotel Four Seasons Jakarta, Jum’at (14/8/2009).

Penganugerahan Prada Prameswari ini diselenggarakan Mustika Ratu Group sebagai wujud kepedulian Mustika Ratu selaku perusahaan jamu dan kosmetika nasional yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi budaya bangsa Indonesia. Prada Prameswari sendiri bisa diartikan sebagai “Permaisuri Emas”, namun yang dimaksudkan disini bukan permaisuri sebagai istri raja. Prada Prameswari dicitrakan sebagai sosok perempuan Indonesia yang cantik, anggun, bijaksana, cerdas, dicintai serta dikagumi keluarga maupun masyarakat.

Menkes mendapatkan penghargaan atas dedikasi, kerja keras dan keberaniannya dalam bekerja sebagai pribadi, ibu rumah tangga dan juga pejabat negara. Prestasi Siti yang banyak dikagumi terutama dalam kiprahnya sebagai Menteri Kesehatan yang banyak menghasilkan program-program kesehatan yang pro rakyat, keberaniannya dalam memerintahkan penutupan NAMRU di Indonesia serta menggugat WHO dalam virus sharing Flu Burung.

Dalam sambutannya Siti Fadilah mengucapkan syukur Alhamdulillah dan terima kasih karena dipilih oleh masyarakat sebagai salah satu perempuan yang dianggap layak disebut Prada Prameswari. Siti mengaku merasa kaget bisa terpilih, dan ia berharap semoga penghargaan ini bisa menjadi cambuk baginya agar bisa menjadi perempuan yang mandiri, inovatif dan produktif untuk membangun bangsa masa di masa depan.

Berdasarkan polling yang dilakukan melalui majalah Femina dan tabloid Nyata selama Januari – Maret 2009, terpilih 8 orang perempuan Indonesia yang dianggap masyarakat layak disebut sebagai Prada Prameswari. Mereka adalah Ani Bambang Yudhoyono – Ibu Negara RI, Siti Fadilah Supari – Menteri Kesehatan RI, Hartati Murdaya – Pengusaha Wanita, Kristina Akbar Tanjung – Penggiat Budaya, Widyawati Sophiaan – Aktris Film, Titiek Puspa – Artis Penyanyi, Artika Sari Devi – Aktris Film Presenter, serta Nurul Arifin – Artis ,Politisi Wanita.

Posted from : depkes.go.id

Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) menerima penghargaan sebagai Prada Prameswari dalam acara penganugerahan Prada Prameswari Indonesia di Hotel Four Seasons Jakarta, Jum’at (14/8/2009).

Penganugerahan Prada Prameswari ini diselenggarakan Mustika Ratu Group sebagai wujud kepedulian Mustika Ratu selaku perusahaan jamu dan kosmetika nasional yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi budaya bangsa Indonesia. Prada Prameswari sendiri bisa diartikan sebagai “Permaisuri Emas”, namun yang dimaksudkan disini bukan permaisuri sebagai istri raja. Prada Prameswari dicitrakan sebagai sosok perempuan Indonesia yang cantik, anggun, bijaksana, cerdas, dicintai serta dikagumi keluarga maupun masyarakat.

Menkes mendapatkan penghargaan atas dedikasi, kerja keras dan keberaniannya dalam bekerja sebagai pribadi, ibu rumah tangga dan juga pejabat negara. Prestasi Siti yang banyak dikagumi terutama dalam kiprahnya sebagai Menteri Kesehatan yang banyak menghasilkan program-program kesehatan yang pro rakyat, keberaniannya dalam memerintahkan penutupan NAMRU di Indonesia serta menggugat WHO dalam virus sharing Flu Burung.

Dalam sambutannya Siti Fadilah mengucapkan syukur Alhamdulillah dan terima kasih karena dipilih oleh masyarakat sebagai salah satu perempuan yang dianggap layak disebut Prada Prameswari. Siti mengaku merasa kaget bisa terpilih, dan ia berharap semoga penghargaan ini bisa menjadi cambuk baginya agar bisa menjadi perempuan yang mandiri, inovatif dan produktif untuk membangun bangsa masa di masa depan.

Berdasarkan polling yang dilakukan melalui majalah Femina dan tabloid Nyata selama Januari – Maret 2009, terpilih 8 orang perempuan Indonesia yang dianggap masyarakat layak disebut sebagai Prada Prameswari. Mereka adalah Ani Bambang Yudhoyono – Ibu Negara RI, Siti Fadilah Supari – Menteri Kesehatan RI, Hartati Murdaya – Pengusaha Wanita, Kristina Akbar Tanjung – Penggiat Budaya, Widyawati Sophiaan – Aktris Film, Titiek Puspa – Artis Penyanyi, Artika Sari Devi – Aktris Film Presenter, serta Nurul Arifin – Artis ,Politisi Wanita.

Sumber : inilah.com

Jakarta – Harapan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pupus sudah. Pemerintah akhirnya mengizinkan investor asing untuk menguasai 65% saham rumah sakit di Tanah Air. Pelayanan kesehatan masyarakat pun dikhawatirkan menjadi korban.

Itu berarti terjadi kenaikan sebesar 16% dan asing diperbolehkan menjadi pemegang saham mayoritas. Padahal, sebelumya, Menkes Siti Fadilah Suparti telah berjuang habis-habisan agar modal asing di rumah sakit tidak lebih dari 49%.

Betul, keputusan ini masih belum final. Sebab, setelah ditetapkan oleh Kantor Menko Perekonomian, ihwal ini masih akan dibahas oleh departemen-departemen terkait. Sehingga, bisa saja permohonan pihak asing untuk menjadi penguasa saham hingga 67% terkabul. Tapi, bisa juga sebaliknya, lebih rendah dari 65%.

Terlepas dari keputusan akhir kelak, diperbolehkannya asing menjadi pemegang saham mayoritas sangat mengecewakan banyak kalangan. Selain akan memicu persaingan yang tidak sehat, banyak rumah sakit dipastikan akan bersifat full commercial. Ini akan mengakibatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat menjadi terkendala.

Saat ini saja, kompetisi di industri rumah sakit dalam memberi pelayanan kesehatan telah menggeser fungsi sosial yang selama ini diembannya. Misi sosial dengan memberi pembebasan atau gratis biaya kepada pasien-pasien tertentu yang tidak mampu kini makin sulit dilakukan.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia, Adib A Yahya, idealnya seluruh saham rumah sakit dikuasai oleh pemerintah. Tapi apa daya, rupanya, pemerintah tak memiliki kemampuan keuangan yang memadai. [E1]

Laman Berikutnya »